the chaotic UMB

Instead of saya cerita ttg bagaimana saya ngerjain soal UMB kemaren, saya lebih tertarik buat cerita tentang proses pelaksanaannya. seperti yang saya tulis di judul, UMB is a chaos.

mungkin beberapa dari kalian ada yang udah baca di koran kompas hari ini, ato denger2 dari temen. dan sekarang saya mau cerita pengalaman saya sendiri. saya tes UMB di jakarta.

pagi2 saya udah nyampe di lokasi. sengaja sih dateng pagi, biar saya bisa ngecek ruangannya dulu dan gak nyasar. saya dateng, nyocokin nomer saya ama ruangannya trus nyari ruangannya di mana. ternyata ruangannya gak jauh dari pintu masuk. karena udah safe, saya santai2 aja duduk di depan sambil nungguin temen temen saya.

saya dan temen2 satu skul saya yang ipa semuanya memang satu lokasi. jadi kami kaya buka ‘stand’ sendiri sambil nunggu bel masuk. Pas udah jam 07.15 saya mulai heran… kenapa belum ada pengawas yang masuk ato gimana gitu. dan jam 08.30 di mana seharusnya latihan ujian udah dimulai, pengawas baru memasuki ruang ujian. oh ya, pengawas di tiap ruang ada 2. 1 orang guru di lokasi itu, dan 1 lagi mahasiswa.

Saya dan 2 orang teman saya yang seruangan lalu berjalan ke ruangan kami. Tapi ternyata terjadi keributan kecil. Penyebabnya yaitu… nomer yang baru saja ditempelkan oleh pengawas saat mereka masuk (jam 08.30), tidak cocok dengan nomer yang seharusnya ada di ruangan itu. ruangan saya yang harusnya berhunikan pemilik nomer 601 – 620, ternyata meja2nya tertempel nomer yang berbeda. kami bingung dong. kami harus masuk atau tidak?

dan ternyata bukan ruangan kami saja yang mengalami kesalahan, namun ruangan di sebelah2 kami juga begitu. akhirnya setelah kami bingung2an gak tau mw ngapain, sambil misuh2 sendiri, ada seorang bapak panitia yang mau mencarikan ruangan kami. ternyata hampir semua ruangan, teracak. solusinya adalah kami harus melihat nomer pertama di tiap ruangan untuk tahu apakah itu ruangan kami atau bukan.

Beruntunglah saya, ruangan saya ‘hanya’ tersasar di lantai yang sama. masih di lantai 1 dan tidak jauh dari ruangan semula. kami akhirnya baru masuk jam 8 kurang dengan suasana hati yang tidak enak karena sudah sempat panik2 dan misuh2 sendiri.

Belakangan, setelah saya pulang dan mendengar cerita dari teman2 saya, banyak yang bernasib lebih buruk dari saya. salah seorang teman saya yang seharusnya ruangannya di lantai 1, sempat dioper ke lantai 3, dan setelahnya harus turun lagi, dan kemudian naik lagi. hingga saat jam 8 seharusnya tes sudah dimulai, teman saya itu masih belum masuk ke ruangannya.

beberapa peserta dari ruangan teman saya itu banyak yang sudah marah2, bahkan sampai menangis. dan mereka menuntut adanya tambahan waktu. namun ternyata, pengawas tidak memberikannya….dasar nasib.

dari pengamatan saya sih, kekacauan ini disebabkan oleh kurang koodinasi antara panitia (para mahasiswa) dan pengawas (guru di sekolah itu). saya sempet nguping (hehehe.dasar tiara!) obrolan beberapa guru, dan menurut mereka, mereka hanya menerima nomer dan soal yang diberikan panitia (mahasiswa). namun ternyata nomer tersebut salah….

pas hari kedua (hari ini), saya berpikir ‘ah, pasti udah beres dong’ jadi saya berjalan ke ruangan saya setelah saya dipindahkan. namun ternyata datanglah anak2 yang ruangannya kami ‘jajah’ kemarin. ternyata ruangan yang mereka ‘jajah’ kemarin, sudah ‘direbut kembali’ sama pemiliknya. jadi mereka bingung mw kemana

jadi kaya cerita jaman kemerdekaan gini…(hahaha)

dan akhirnya, temen saya ‘si penjajah yang terusir itu’ sampe bolak balik buat nyari ruangan yang kosong. parah kan?

kalo menurut saya sih, pelaksanaan UMB ini emang kurang persiapan. ya iyalah… dari pengumuman ada UMB sampe pelaksanaannya aja cuma kira2 satu stengah bulan. dan ternyata..kekacauan UMB bukan cuma pas tesnya saja, tapi dari sebelumnya juga. baca aja tulisan seorang mahasiswa UI yang berjudul CATATAN HITAM PENYELENGGARAAN UJIAN MASUK BERSAMA (UMB) 2008: PANITIA UMB 2008 TIDAK PROFESIONAL”

ternyata bukan cuma saya saja yang merasa begitu…

ini beberapa kutipannya…

“informasi terkait UMB ini tidak bisa terdistribusi secara baik karena satu hal, Kurang Optimalnya Sosialisasi Yang Dilakukan Rektorat UI dan 4 Universitas.”

“Hal ini sangat fatal karena yang kurang itu FORMULIR. Bagaimana mungkin FORMULIR UMB bisa habis sebelum tanggal penukaran formulir berakhir dengan alasan kurangnya asumsi jumlah ketika memesan kepada percetakan.”

“Mbak apa betul pilihan jurusan dalam formulir UMB tidak boleh berasal dari Universitas yang sama?”

lalu apakah jawaban dari sang petugas, dia menjawab

“Peraturan itu sudah diralat mas, sekarang pilihan jurusan yang berasal dari Universitas yang sama sudah diperbolehkan.”

“saya mengira bahwa ralat tersebut SUDAH dipublikasikan kepada khalayak calon mahasiswa. Ternyata ?”

Weks….ternyata lebih kacau dari yang saya kira…!!

kalo gini, saya jadi mikir, apa gunanya saya dateng pagi2 sebelum jam 6 biar gak bingung….kalo pas waktunya masuk kita malah dibikin bingung????

sebel deh.

Rektor UI bilang, UI memberikan kuota lebih banyak pada UMB daripada SNMPTN, tapi kenapa UMB ini kesannya kurang persiapan..ini kan merugikan peserta juga.

Advertisements

2 thoughts on “the chaotic UMB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s