dilema anak tengah

null

Saya lahir 3 tahun 4 bulan setelah kakak saya. Dan 1 tahun 4 bulan kemudian, lahirlah adik saya.

Saya dilahirkan sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak saya laki laki namanya Mas Ireng, dan adik saya perempuan namanya Melati.

Saya anak tengah.

Saya pernah membaca di sebuah novel bahwa anak tengah adalah yang paling aneh di tengah tengah keluarga itu. Well, disini saya gak akan bercerita tentang seberapa anehnya saya. Saya ingin bercerita tentang suka dukanya hidup sebagai anak tengah.

Perbedaan usia saya dan adik saya yang hanya 1 tahun lebih membuat saya tidak memiliki waktu untuk mengetahui rasanya jadi anak bungsu. Sejak saya mulai menyadari kehidupan saya, yang saya ketahui adalah saya memiliki seorang kakak dan seorang adik. Suatu berkah bukan? Ketika yang lainnya hanya bisa merasakan satu, saya memiliki keduanya.

Di lingkungan keluarga kami, kami bertiga dikenal sangat akur, jarang berantem dan selalu terlihat kompak. Ini karena orang tua kami sejak kecil selalu mengatakan bahwa kami bertiga harus selalu bersama. Ayah dan ibu kami tidak akan ada selamanya untuk kami. Ketika ada permasalahan datang, kami harus bisa membantu satu sama lain. Itu yang selalu saya tanamkan dalam diri saya.

Mas Ireng dan Melati adalah segalanya.

Indahnya jadi anak tengah, sudah bisa dilihat kan? Saya memiliki kakak untuk bermanja manja dan adik untuk disuruh suruh. Saya punya kakak untuk mengajari saya dan adik untuk saya ajari. Saya diperhatikan kakak dan dicariin ama adik saya.

Tapi mungkin quote “anak tengah itu paling aneh” itu ada benarnya juga ya. Kadang kadang saya merasa asing dari kakak dan adik saya sendiri. Mereka berdua sama sama ber-IQ tinggi (di atas 140) dan saya paling tinggi hanya 119. Mereka berdua bisa mengobrol tentang astronomi hingga berjam jam sedangkan saya langsung protes kalo rasi bintangnya gak bisa keliatan dari teleskop.

Saat ini, ketika Mas Ireng sedang melanjutkan studi masternya di Taiwan dan melati kuliah di ITB juga bersama saya, peranan sebagai anak tengah itu terasa mulai berkurang. Ketika Mas Ireng tidak ada sebagai tempat saya bermanja manja. Ketika saya iri sama melati yang bisa bermanja manja sama saya. Sebenarnya keadaan seperti ini sudah ada sejak Mas Ireng kuliah di ITB sedangkan saya dan Melati masih SMA di jakarta. Namun dulu intensitas bertemunya lebih sering.

Mas Ireng cepet pulang dong 😦

Advertisements

4 thoughts on “dilema anak tengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s