IYC : Satu hari singkat menghasilkan satu cerita panjang

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman saya jadi sering nge-tweet tentang betapa ia tidak memiliki power untuk mengubah semua ketidak beresan di negara ini. Ia berkata bahwa ia harus jadi seorang presiden terlebih dahulu untuk memperbaiki semuanya. Saat ini saya jadi merasa bersalah karena tidak mengajaknya ke salah satu event paling oke di tahun ini untuk para pemuda Indonesia.

null

IYC bermula dari ide seorang Alanda Kariza untuk menggerakkan semua elemen pemuda Indonesia. Berawal dari sebuah ide, diskusi dengan teman temannya, dan mengumpulkan para volunteer, voila! Terselenggaralah Indonesian Youth Conference pertama (dan mudah mudahan bukan yang terakhir) pada tanggal 1-4 Juli 2010 yang lalu. IYC sendiri dibagi menjadi 2 yaitu Forum, yang diikuti 33 perwakilan dari tiap propinsi di Indonesia, pada tanggal 1-3 Juli dan Festival, yang bebas diikuti oleh siapa saja, pada tanggal 4 Juli.

Saya berkesempatan untuk menghadiri Festival IYC tanggal 4. Sebenarnya semua orang pun memiliki kesempatan yang sama karena early birdnya sendiri hanya Rp 50.000 saja. Menurut saya itu cukup murah untuk 5 sesi seminar yang akan saya hadiri hari itu. Saya sempat mengajak beberapa teman, namun karena banyak yang berhalangan dll, maka hanya 1 yang berhasil saya jaring. Yaitu tak lain dan tak bukan: Rani Krisnamurthi.

Di Festival IYC ini ada 16 sesi seminar dengan 16 topik yang berbeda. Pembicaranya pun banyak yang sudah memiliki nama besar. Saya dan Rani memilih sesi: Lingkungan, Diplomasi, Kependudukan Global, Sudut Pembaharu, dan Kewirausahaan.

Sesi pertama adalah tentang Lingkungan. Awalnya saya sangat tertarik karena salah satu pembicaranya adalah Emil Salim (pernah menjadi co-chairman UN World Commision on Environment and Development) dan Fitrian Ardiansyah yang merupakan alumni TL ITB yang kerja di WWF. Namun pada pelaksanaannya, kedua pembicara tersebut berhalangan hadir. WWF diwakili Mbak Verena sebagai campaign coordinator dan pembicara kedua adalah Pak Yadi, dosen pangan dari IPB.

Sesi ini menarik walaupun masih kecewa akan ketidakhadiran pembicara yang diinginkan. Mbak Verena memutar beberapa video tentang kampanye pelaksanaan earth hour dan juga pengalamannya di beberapa konferensi lingkungan antar negara. Sedangkan Pak Yadi menjelaskan tentang bahaya disposable lifestyle dari sisi lingkungan dan juga kesehatan.

Sejujurnya, saya sudah sering sekali mendengar dan mempraktekkan apa yang dijelaskan di sesi Lingkungan ini. Namun salah satu hal yang membuat saya kagum adalah Pak Yadi yang usianya sudah cukup tua dan sangat bersemangat dalam menghina styrofoam, plastik, dan teman temannya. Jarang jarang lho orang dewasa seperti itu.

Topik pada sesi kedua adalah Diplomasi. Melihat list pembicaranya, wow! Ada Dino Patti Djalal (Juru Bicara Presiden RI) dan Fariz Al Mehdawi (Dubes Palestina untuk Indonesia). Saya puas sekali dengan sesi ini, bisa jadi ini sesi yang paling saya sukai. Di awal kesempatan, Pak Dino menekankan “we’re the best generation” “we are the generation of imagination” Bahwa kita saat ini memiliki kesempatan yang sangat besar sebagai generasi muda di Indonesia. Dan bila kita mau bertahan di abad ke 21, Pak Dino memberikan cara caranya:

  1. Don’t be dogmatic.
  2. Be opportunity driven, take a risk, and make progress
  3. open, moderate, tolerate, creative nationalism

Sedangkan Fariz Mehdawi menceritakan tentang pengalamannya keliling Indonesia sebagai seorang duta besar. Cukup unik melihat sudut pandangnya mengenai keadaan Indonesia. Bahwa sebenarnya Indonesia bisa ditiru. Namun kita harus terlebih dahulu setia dan bangga pada negara kita. Untuk penutupnya, Fariz Mehdawi sedikit meluruskan tentang keadaan negaranya. Kira kira begini yang ia katakan (tentu saja dalam bahasa Inggris)

Yang ingin saya tegaskan adalah ini masalah politik, bukan masalah antara Islam, Kristen, atau Yahudi.

Sesi ketiga merupakan Kependudukan Global. Pemateri pada sesi ini adalah aktivis dari Mercy Corps. Saat saya membaca deskripsinya di website, Mercy Corps terlihat keren sekali dengan gerakan Global Citizen Corps, sehingga saya akhirnya mengikuti sesi ini dibandingkan sesi Politik. Namun pada prakteknya saya cukup kecewa.

Pembicara dari Mercy Corps, yang terdiri dari beberapa orang, tampak kurang bisa menjelaskan materinya. Mereka kurang bisa menunjukkan karya nyata dari Mercy Corps itu sendiri, padahal waktu saya googling dan tanya tanya, ternyata lumayan banyak lho. Pemateri juga tidak siap dengan pertanyaan pertanyaan dari peserta. Sangat disayangkan memang.

Selanjutnya saya mengikuti sesi tentang Sudut Pembaharu. Sesi ini menghadirkan orang orang muda yang siap untuk mengubah dunia. Ada Guinandra (Peraih medali emas dalam International Conference of Young Scientists di Polandia, medali perunggu dalam Asian Science Camp di Jepang, dan terpilih sebagai Duta Belia Teladan 2009 untuk Australia), Ramaditya Adikara (motivator tuna netra), dan 2 orang peserta Forum IYC, Hendrik Bera dan Dina Puspita Sari.

Masing masing dari mereka menceritakan apa yang telah mereka lakukan dan yang akan mereka lakukan untuk merubah Indonesia, dimulai dari daerah sekitar mereka sendiri. Guinandra yang menjelaskan tentang minatnya dalam fisika (science) dan juga diplomasi. Ia berniat tidak ingin menjadi scientist yang ‘geek’ namun sebagai social scientist.  Hendrik ingin concern tentang keberadaan air bersih di daerah asalnya, Nusa Tenggara Timur. Dina yang pernah menjadi perwakilan Indonesia dalam Children’s Climate Forum (CCF) di kopenhagen berambisi untuk memberikan penyadaran lingkungan.

Saat itu saya sangat terinspirasi dengan kehadiran Ramaditya. Saya belum pernah mendengar namanya meskipun ternyata ia sudah pernah masuk Kick Andy juga. Satu quote dari Ramaditya yang mendapat tepuk tangan dari para peserta adalah sebuah pesan dari orang tuanya:

Lo boleh buta mata, tapi gak boleh buta hati

He’s a good motivator. Dia tampak santai saja dengan keadaannya yang memang berbeda dan cerita cerita darinya benar benar tulus. Seakan mengingatkan kita untuk bersyukur dengan apa yang kita miliki. Satu pernyataan lagi darinya yang membuat kami terenyuh adalah saat ia ditanya mimpinya untuk ke depan: “Saya ingin jadi bapak”

Sesi kelima atau terakhir yang saya ikuti adalah tentang Kewirausahaan. Ketiga pembicara yang hadir tampaknya sudah cukup ternama walaupun saya ternyata belum kenal kenal banget. Mereka adalah Sandiaga Uno, Yoris Sebastian, dan Goris Mustaqim. Sejujurnya pada sesi ketiga ini, saya sudah cukup lelah. Selain karena sudah mengikuti beberapa sesi seharian, antrian saat mau masuk ke ruangan sesi ini sangat penuh. Tampaknya antusias peserta sangat besar.

Saya mencatat beberapa quote dari para pembicara ini

Kita semua bisa, tapi apakah kita mau? (Sandiaga Uno)

Happynomics –> Kerjakan sesuatu yang membuat kita bahagia namun memberikan nilai ekonomi (Yoris Sebastian)

Saya ingin mandiri, saya ingin menjadi agen perubahan (Goris Mustaqim)

Setelah sesi kelima tersebut sebenarnya masih ada pertunjukan musik lagi. Namun saya yang terlalu lelah dan rani yang harus menempuh perjalan cukup jauh ke tanjung duren, memutuskan untuk pulang saja.

Lalu, pasti semuanya akan bertanya. Apa yang saya dapatkan dari IYC?

Inspirasi.

Ya, saya belum seperti teman teman perwakilan propinsi tersebut. Saya belum punya suatu komunitas atau membentuk sebuah gerakan. Tetapi saya punya kesempatan yang sama besarnya dengan semua pemuda di Indonesia ini. Tinggal apakah saya mau. Usia muda ini memberikan keuntungan besar bagi kita semua. Kita belum terikat tanggung jawab lebih akan keluarga kita sendiri. Kita masih bebas memiliki pemikiran tanpa bersinggungan dengan kepentingan banyak orang. Apakah semua itu akan kita sia sia kan?

Saya belum tahu akan melakukan apa setelah IYC ini. Tapi saya akan melakukan sesuatu.

Kembali ke cerita tentang teman saya di awal postingan ini. Saya tidak yakin tulisan saya ini akan mengubah pola pikirnya. Namun paling tidak ini adalah hal pertama yang bisa saya lakukan, yaitu berbagi pengalaman.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat buat teman teman 🙂

Advertisements

7 thoughts on “IYC : Satu hari singkat menghasilkan satu cerita panjang

  1. Hahaha. Mxdny gw nih ya? (Ge-er bnr) Tenang aj ti, gw kadang2 cm lebay, hahaha. Gw cm pgn nyentil smw tmn gw.

    Lo harusnya ngajak gw ke acara ini! Huh huh. Tp apa daya lg KP.

    Lo bs jd solusi. Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s