sekali seumur hidup sampai mati

null

Tampaknya ini adalah efek dari nonton parenthood + mata najwa edisi Habibie-Ainun. Dan ditambah lagi dengan ceramah ibu saya. Cukup lah. Hahahaha Mau tidak mau saya terpikir akan konsep pernikahan, konsep berkeluarga.

Terlalu jauh? At least 6 years from now I have to be ready to become someone’s wife.

Sejak kecil, ibu saya selalu menanamkan konsep pernikahan sekali seumur hidup sampai mati. Setiap menemukan kesempatan, ibu saya selalu memberikan nasihat tentang bagaimana saya harus berhati hati memilih pasangan. Jangan terlalu cepat jatuh cinta, jangan terlalu cepat memutuskan, jalan masih panjang, dst dst. I think she should be a marriage counselor.

Ergh.

But she’s right.

Terlalu banyak perpisahan yang saya saksikan (dan saya alami :P). Terlalu banyak perceraian. Terlalu banyak ikatan keluarga yang putus. Terlalu banyak kata benci setelah kata cinta. Terlalu banyak anak tak bersalah jadi korban keegoisan orang dewasa. Di mana lagi konsep pernikahan sekali seumur hidup sampai mati?

Kemudian saya melihat kisah cinta Pak Habibie dan Ibu Ainun. Kita pasti berharap dapat menemukan pasangan seperti Pak Habibie atau Ibu Ainun. Namun ketika kita menemukannya, mampukah kita mempertahankannya? Pak Habibie dan Ibu Ainun mempertahankan cinta mereka selama 48 tahun, hingga akhirnya maut yang memisahkan mereka. Bukan keegoisan, bukan harta, bukan orang lain.

Ketika kita nanti sudah mengucapkan janji sehidup semati, peganglah. Bertahanlah. Ketika pada suatu titik ia mengecewakan, marahlah. Kita berhak untuk marah. Namun apakah kemarahan berarti kebencian? Berarti akhir dari semuanya? Kemarahan bisa berarti keinginan kita untuk menjadikan dia pribadi yang lebih baik. Ketika pada suatu titik kedua idealisme sudah tidak dapat disatukan, cobalah mengalah. Karena ketika janji sudah terucap di awal, yang bisa kita paksakan adalah idealisme bersama, kepentingan bersama.

Saya menulis ini bukan karena saya berpengalaman. Saya menulis ini karena saya takut. Saya takut gagal dalam hal sekali seumur hidup sampai mati ini.

Satu keputusan ini akan mempengaruhi seluruh sisa usia saya. Apa saya mampu?

Sekaligus untuk terus mengingatkan saya ke depannya. Ketika 4-5 tahun lagi saya membuka tulisan saya sendiri tentang pernikahan, semoga saya bisa membuat keputusan dengan baik.

Advertisements

4 thoughts on “sekali seumur hidup sampai mati

  1. Seperti di tulisanmu sebelumnya…. “kamu pati bisa kalau kamu mau”.
    Dulu ibu jg takut, tp yakinlah suatu saat kamu akan menemukan cinta sejatimu yang menerima dirimu apa adanya. Percayalah, krn ketika kamu yakin akan menemukannya maka kamu akan mendapatkannya. God Bless You dear…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s