Donor Darah

null

Jarang jarang nih judul postingan blog saya sesimpel itu. Hahahaha.

Jadi tanggal 22 November 2010 yang lalu, saya mendapatkan pengalaman pertama. Yap, pengalaman pertama mendonorkan darah.

Sebelumnya, yang menjadi penghalang antara niat dan realisasi donor darah adalah : takut. Ya, secupu itu deh saya. Saya belum pernah diambil darahnya, belum pernah diinfus juga, intinya belum pernah ada jarum suntik yang masuk ke tubuh saya sejak terakhir SD jaman vaksin-vaksinan.

Dan entah kenapa, hari itu saya sedang membutuhkan sesuatu yang baru.

Saya ke Labtek Biru di kampus saya tercinta, tempat dimana donor darah dilangsungkan. Untungnya ada Ijul yang menemani, jadi saya gak seperti orang bodoh celingak celinguk sendirian. Hahahaha.

Pertama tama, saya diminta mengisi form berisi pertanyaan pertanyaan seperti : “Apakah anda pernah dioperasi?” “Apakah anda memiliki alergi tertentu?” “Apakah anda baru sembuh dari penyakit berat?” ya dan pertanyaan pertanyaan semacam itu. Lalu saya baru sadar, saya sesehat itu lho! Fufufufu senangnya hahaha.

Lalu tekanan darah saya diukur, hasilnya 110/70 masih termasuk normal. Ohya sekalian saja ya saya tuliskan beberapa syarat untuk mengikuti donor darah :

  • Usia 17-60 tahun (ya atau sekitar2 segitu)
  • Berat badan minimal 50-an sekian (hahaha lupa)
  • Terakhir mendonorkan darah adalah 70 hari sebelumnya
  • Sudah sarapan
  • Tidak habis begadang
  • Tidak sedang haid

Karena saya memenuhi seluruh syarat di atas, maka setelah golongan darah saya dites, saya diberi kantong darah dan…. inilah saatnya. Sempat terpikir untuk mundur, tapi malu rasanya. Akhirnya saya berjalan ke bed dan memberikan tangan kanan saya. Yeah, tangan kanan. Agak bodoh juga sih hahaha.

Saya memilih untuk tidak melihat proses si jarum dimasukkan. Saya melihat ke langit langit, dan setelah sedikit rasa sakit, ternyata jarum yang cukup besar itu sudah terpasang di tangan saya. Lalu saya merasakan sensasinya. Sulit dijelaskan ya hahaha. Namun seperti ada yang jatuh dari badan ini.

Tidak lama kemudian, ibu petugasnya melepaskan jarum dan selang itu dari tangan saya. Dan saya melihat 1 kantong berisi darah golongan O saya. Wew, segitu banyak juga ya yang keluar dari badan saya. Dan darah itu pasti ada manfaatnya bagi orang lain.

Hanya seperti itu. Ya, setelah beberapa bulan saya ketakutan sendiri, ternyata prosesnya sesimpel dan secepat itu. Rasa sakit sedikit yang bukan apa apa bila dibandingkan dengan manfaatnya bagi orang lain.

Moral dari cerita ini : Ternyata saya berani lho! Saya bisa menghadapi ketakutan ketakutan saya ketika saya mau. Tidak ada yang bisa menghalangi keinginan saya ketika saya berani. Tidak ada yang harus ditakuti!

Sekarang, ketika saya ragu dan takut menghadapi realita, saya selalu mengingat ingat pengalaman donor darah kemarin. Tidak ada yang tidak bisa saya lakukan. Tidak ada gunanya takut kepada hal yang belum pernah kita coba. Kapan kita mau maju bila begini terus?

Seperti kata Pastor saat khotbahnya di misa beberapa minggu lalu:

“Jangan pernah melarikan diri dari masalah kehidupan”

Advertisements

3 thoughts on “Donor Darah

  1. Berat minimal 40-an?!
    SALAH BESAR! BOHONG!
    *gak santai

    Haha. Setau gue 50 kg, Ti. Dan gue selalu terganjal masalah berat badan. Makanya gue gak pernah donor darah.
    Ngok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s