perempuan sebagai pendamping hidup

entah kenapa saya jadi teringat akan obrolan saya dengan seorang teman. Teman yang kemudian jadi pacar dan kemudian jadi mantan lalu jadi teman lagi. Hehehe.

Katanya : “perempuan banyak menuntut calon pendamping hidup mereka harus begini begitu. harus mapan, harus punya penghasilan tetap, harus bisa bawa mobil, harus ini harus itu. memang harus sih, tapi kalo si laki laki udah bisa semua itu, apa yang bisa perempuan tawarkan sebagai calon pendamping hidup?”

Dan lagi lagi saya berpikir “hmmm iya juga ya”

Lalu saya teringat juga obrolan teman saya yang tampaknya sudah serius sekali dengan pacarnya (di saat saya pun punya pacar aja enggak :p). Katanya : “iya, aku udah bilang kok sama dia. kalo ntar beneran mau sama aku, siap siap aja. aku gak bisa masak, beres beres juga males. aduh beneran gak bisa deh hal hal kaya gitu”

Egois gak sih?

Saya sendiri cukup tersentil dengan apa yang dikatakan si teman/mantan itu bilang. Apakah saya sudah cukup baik untuk menjadi pilihan seorang laki laki sehingga saya bisa membuat list sepanjang panjangnya tentang laki laki yang saya inginkan dalam hidup saya?

Saya tidak bisa berenang. Saya tidak bisa menyetir mobil. Saya tidak bisa menyetrika baju dengan rapi. Saya tidak suka menyapu ataupun mengepel rumah. Saya cepat bosan. Saya hobi marah marah.

Saya belum tahu apa yang akan saya lakukan di masa depan.

Lalu apa hak saya menuntut pendamping hidup yang luar biasa? Ketika saya tidak bisa menawarkan apa apa dari diri saya.

Mungkin ada yang akan berkata : “ah, kan laki laki tulang punggung keluarga. Itu sebabnya dia harus bisa ini itu, menyediakan ini itu.” Perempuan adalah jantung hati keluarga. Karena perempuan, maka keluarga tersebut hidup dan berdetak tiap detiknya. Seorang perempuan akan menjadi seorang istri dan seorang ibu. Seorang perempuan akan menjadi yang pertama dicari ketika sang anak jatuh dan terluka. Saat suami pulang lelah dan letih setelah mencari penghasilan, wangi masakan dari dapur lah yang ia rindukan.

Ada pula yang berkata : “ah, dia harus bisa menerima saya apa adanya.” Itu adalah yang dikatakan oleh ‘cinta’ Lain lagi bila ‘realita’ yang berucap. Realita itu memaksa, menekan kita hingga pojok yang paling pinggir. Realita menuntut laki laki untuk ‘segala-ada’ dan  perempuan untuk menjadi ‘segala-bisa’ Itu kenyataan dan kita tidak bisa menutupinya. Saat semakin banyak perempuan tidak bisa segala sesuatu, maka akan muncul ketidak puasan. Yakinkah bahwa bertahun tahun lagi, cinta masih bisa menutupi ketidakpuasan tersebut?

Lalu ada yang mengatakan : “ah, seiring dengan berjalannya waktu pasti bisa sendiri.” Ya ya, pasti ada yang bisa kita pelajari seiring dengan berjalannya waktu. Saya juga setuju. Namun yang kadang saya sesali adalah pola pikir menunda tersebut. Tidak ada salahnya bila kita mempersiapkan dari sekarang kan? Bukankah si calon pendamping sudah memikirkan langkah langkah mendapatkan pekerjaan yang mapan, uang banyak, dan tempat tinggal yang nyaman? Kapankah kita akan menyiapkan skill memasak, menjahit, menyetir mobil, menahan amarah, bertahan dari sakit dan tetap tersenyum?

Kadang kadang perempuan terlalu terlena karena begitu dicintai. Kadang kadang perempuan merasa sudah cukup merasa mencintai dengan cara memperhatikan, memaafkan, menemani. Namun kadang perempuan lupa bahwa ia harus menjadikan dirinya pantas untuk dicintai.

Ibu pernah berkata. Jangan menggantungkan segalanya pada laki laki.

Saya perempuan.

Saya punya list kriteria pendamping hidup yang saya inginkan.

Dan hingga saat pertemuan itu tiba, saya akan menyiapkan diri saya untuk pantas dicintai, dan menjadi pendamping hidup untuk selama lamanya.

Advertisements

11 thoughts on “perempuan sebagai pendamping hidup

  1. Permenungan & hasil refleksi yg bagus.

    Namun kalo boleh jujur, ternyata ada juga seseorang yg punya cinta Agape, yg pernah, masih & akan terus ada di dunia mayapada ini.

    Seandainya saja para janma manungsa kayak kita mau berusaha menduplikasi, wah pasti luar biasa ya.

    Apalagi syaratnya cuma buka hati.

    Tapi, omong punya omong, perempuan seperti Tiara yg emang seperti Mutiara tentunya tinggal pilih aja yg mana.

    Atau kalo boleh kasih saran, ada bagusnya juga baca buku ‘5 Bahasa Kasih’ nya Garry Chapman. Sapa tau bisa membantu Tiara dalam masa persiapan menjadi calon pendamping yg luar biasa.

    Ato sapa tau suatu saat nanti kita bisa ketemuan ya. Kayaknya Tiara temen ngobrol yg asyik juga.

    Gbu

  2. Sebuah coretan pikiran yang dewasa dari seorang perempuan yang dewasa, menurutku.

    Spoiler:
    Dia menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Keberpasangan itu sendiri terdiri dari persamaan dan perbedaan. Kedua hal ini harus diketahui agar perempuan dan laki-laki bisa bekerja sama mencapai suatu tujuan kemanusiaan.

    Menurut pakar, cinta antar-manusia adalah hubungan dua ‘aku’. Keakuan masing-masing dihormati namun kemudian, secara konseptual, keakuan diri lebur pada keakuan kekasih. Karena cinta mengharuskan adanya dua ‘aku’.

    Fase dewasa itu ada. Binasalah orang-orang yang tidak beranjak ke fase itu.

  3. :)) setuju…. Hihihi… But sometimes reality even more difficult to faced.. Jadi aku learning by doing aja deh hehehe… But dont to muvh depend our self to a guy, is totally agree! Warn ur own money..make ourself well educated as higher as we can.. Its a ,must so then, we also noy being underestimsted by other girl… :)) *pikiran random kerja sambil S loro hehe

    This is a nice way to shared ideas.. ;))

  4. Boleh juga blognya…mungkin skill yg penting tuh bisa masak sama bisa ngatur duit belanja biar pas.ngerawat keluarga juga penting sih. Oia kalo soal jangan terlalu bergantung sama suami selama suaminya bisa digantungin kenapa enggak…worst case nya kalo suaminya meninggal dan ga ninggalin apa2…selamat melatih skill ibu2

  5. Hmm…
    Pemikiran tentang bersatunya perempuan dan laki2 sudah ada dalam pikiran aku sejak aku ketemu sama satu orang tahun lalu. Memilah2 alasan apa sehingga 1 laki2 memilih 1 perempuan, dan sebaliknya.

    🙂

    Postingan kamu membuat aku nggak merasa sendirian memikirkan hal ini sampe terlalu dalam dan terlalu jauh. Soalnya, dilihat2 kayaknya ini soal gampang. Banyak fakta2 yang ada di sekeliling aku yang menunjukkan bahwa ini nggak susah. Dengan gampang mereka memutuskan untuk memilih 1 orang.
    🙂

    Terima kasih…
    dan salam kenal dari Minnesota…

    Chendani

  6. Wah, my girl makin gedhe aja nih. Tp ngga usah kuwatir dik. Bayangin aja dulu ibu nikah umur 21 th, bisanya apa?

    Yang penting dapet suami yang cintanya tulus tanpa syarat. Artinya yg bisa menerima kelebihan dan kekurangan kita, dan juga berani janji setia sampai maut memisahkan.

    Yang penting lainnya adlh masing2 tidak menuntut untuk dibahagiakan tapi berusaha saling membahagiakan pasangan, dengan satu tujuan yaitu kebahagian keluarga.

    Nah, membahagiakan pasangan itulah nanti baru bisa disesuaikan kalau sudah nikah.

    Justru yang paling penting utk dipersiapkan adalah bagaimana bisa menjadi pribadi yang baik dan menarik sehingga pantas untuk mendapat cinta yang tulus tanpa syarat dari seorang laki2.

    Okey, God Bless U Dear… I Love U…

  7. Pingback: Pacaran Itu Mahal « the fairytale of tiarakami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s