cerita setelah 60nya Earth Hour

Tanggal 26 kemarin saya sedang di Jakarta. Karena malam minggu sekeluarga mau jalan jalan, saya pun mengusulkan untuk ke Grand Indonesia. Saya penasaran dengan seremonial Earth Hour di Bundaran HI.

Saat pukul 20.30, kami masih di dalam GI. Tidak, lampu di mall tidak dimatikan. Hanya lampu lampu sisi paling pinggir Food Louver yang dimatikan, digantikan dengan lilin di setiap meja. Lalu sekitar jam 21.00 baru kami berjalan keluar mall dan menyebrang ke bundaran HI. Saya lalu mengambil beberapa foto dengan kamera digital.

Maaf hasilnya kurang bagus karena gak gitu jago kalo motret gelap gelap. Hehehehe.

Ya, itu foto yang sebelah kiri pas lagi dimatiin, yang sebelah kanan pas udah dinyalain lagi. Sebenarnya kalau dilihat sekilas, memang tidak begitu gelap sih. Ternyata yang dimatikan hanya lampu lampu pelengkap di luar gedung, lampu jalan, serta lampu di halte busway. Hanya 1 gedung yang mematikan lampu gedungnya secara total yaitu gedung BII.

Di bundaran HI sendiri tidak ada acara yang terlalu ramai. Hanya beberapa kelompok orang yang duduk2 di sekitarnya. Kebanyakan komunitas sepeda atau fotografi. Teman teman di WWF pun hanya bernyanyi bersama sambil mengelilingin bundaran.

Banyak orang yang nyinyir (apa ya bahasa yang benernya? haha) dengan pelaksanaan Earth Hour. Bilang malah ngabisin duit lah, nanti pembangkitnya rusak, sok sok ikutan trend lah. Saya sendiri sempat mendapatkan penjelasan dari teman di jurusan Teknik Tenaga Listrik tentang isu isu yang berkembang di masyarakat. Saya juga sempat mengobrol dengan beberapa teman yang memang concern di bidang ini. Dan yang bisa saya simpulkan adalah : berbuat baik itu memang tidak mudah 🙂

Setelah saya melihat pendapat beberapa teman, baik yang mendukung dengan penuh dan juga yang menolak penuh dengan sindiran, saya melihat ada kesamaan. Masing masing menumbuhkan kesadaran dari dalam diri masing masing tentang kebutuhan akan menggunakan listrik dengan bijak.

Yang menyindir berkata : Ah gak perlu ada Earth Hour, yang penting saya sudah mematikan lampu dan listrik saat tidur dan keluar rumah.

That’s it! Secara tidak langsung dia membuat janji dengan dirinya sendiri. Dengan pola pikirnya yang berbeda, ia jadi lebih peduli kan?

Mungkin memang harus begini kali ya. Kontroversi. Perbedaan pendapat membuat kita berpikir, mencari informasi, menemukan solusi. Saat ini solusinya adalah berpulang pada individu masing masing.

Apakah lampu kamar mandinya sudah dimatikan?

Apakah TVnya masih dalam keadaan standby atau sudah benar benar mati?

Apakah charger masih terpasang?

Apakah ketiduran dengan laptop masih menyala?

Apakah lampu menyala di saat siang terang benderang?

Mari kita bijak dalam menggunakan energi. Terserah, mau dengan mengikuti Earth Hour atau tidak 🙂

Advertisements

One thought on “cerita setelah 60nya Earth Hour

  1. Hari Bumi yah.

    Baca blog tiara jd inget… (maklum dah luama buanget ndak ke sekre mapala). Hehehe Bumi kita emang dah tua ya ternyata.

    Dan tiap orang punya pemikiran sendiri2 begitu pula the way they respect the earth by saving the energy ya.

    Semoga aja makin banyak yang punya kesadaran diri to love mother nature.

    Eh sepertinya tiara asik deh kalo bikin novel, kenapa ndak dicoba aja?

    Wha’ do u think about it? I’ll support u.

    Would u like to consider my idea, please? Pasti asik baca nya.

    Okay?

    May all the best come to u, your family, and your study.

    Gbu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s