Harry Potter vs Pajak

Siapa yang akan menang ya kira kira?

Sejak kehebohan dicabutnya ijin importir film yang menunggak pajak, masyarakat pecinta film di Indonesia tidak pernah henti hentinya bersuara agar film Hollywood kembali masuk ke Indonesia. Absennya Black Swan, Kungfu Panda, X-Men, hingga Transformers 3 memang membuat ada yang kurang di keseharian sebagian orang. Puncaknya adalah ketika mereka hanya bisa gigit jari melihat negara negara lain jatuh dalam fenomena Harry Potter saat sekuel terakhir dari film tersebut dirilis.

Sebagian masyarakat di Indonesia memutuskan untuk berangkat ke negara tetangga demi bisa menonton Harry Potter, sebagian lagi men-trending topic hashtag #IndonesiaWantsHarryPotter, sebagian lagi cuek dengan anggapan bisa cari bajakan atau download saja. Angin segar terasa ketika @21Cineplex memberikan statement menyambut film film Hollywood tersebut untuk masuk ke Indonesia. Official website mereka pun telah menampilkan poster poster film Hollywood tersebut di halaman ‘Coming Soon’

Ketika mendapat berita terebut, yang menggelitik saya bukan fakta bahwa Harry Potter akan segera tayang, namun pertanyaan “emang masalah pajaknya udah selesai?” Awalnya saya memang tidak begitu mengikuti perkembangan kasusnya. Setahu saya, Dirjen Pajak sempat mengeluarkan peraturan baru soal pajak tanpa menghapuskan utang pajak importir importir sebelumnya. Lalu Menbudpar, Jero Wacik, pernah mengumumkan bahwa film Hollywood akan segera masuk ke Indonesia namun dibantah oleh Menteri Keuangan.

Lalu saya mencoba membaca beberapa artikel tentang masalah ini dan sedikit banyak saya mulai paham keadaan saat ini.

Beberapa importir yang masih menunggak pajak berada di dalam 1 grup, yaitu grup 21Cineplex. Ketika peraturan baru tentang pajak film dikeluarkan, MPAA yang merupakan distributor film film Hollywood merasa tidak cocok dengan peraturan tersebut. Namun kini muncul importir baru yang bernama Omega Film. Kabarnya MPAA sudah memiliki persetujuan dengan Omega Film dan dalam 2 hari ini film film Hollywood dapat masuk ke Indonesia dan dilanjutkan ke LSF sebelum dapat disaksikan oleh masyarakat.

Pertanyaannya adalah, siapakah Omega Film?

Omega Film diduga masih dibayang bayangi oleh orang orang lama dari grup 21Cineplex. Sebelunya Omega Film sempat diblokir selama 2 minggu karena diduga memiliki afiliasi dengan 21Cineplex yang masih juga belum membayar pajak. Namun dengan campur tangan Kemenbudpar, blokir tersebut dicabut sehingga 21Cineplex bisa menampilkan judul judul film box office Hollywood di halaman Coming Soon mereka.

Kabar ini tentunya disambut dengan suka ria oleh mereka yang nafsu menonton Harry Potter-nya tak tertahankan lagi. Tapi apakah ini solusi untuk masalah perpajakan film impor? Tidak.

Dugaan monopoli oleh grup 21Cineplex sudah ada sejak lama, namun tidak ada yang berhasil membuktikan. Sekarang, ketika importir importir di bawah 21Cineplex tercegat pajak, yang mereka lakukan adalah membentuk importir baru. Sulit? Tentu tidak. Ketika orang orang lama lagi yang bermain, urusan ke MPAA dan urusan urusan ‘belakang’ pun menjadi mudah. Sudah pasti film Hollywood tersebut bisa dengan cepat didapatkan.

Ketika masyarakat sudah bisa menikmati lagi film film Hollywood, siapa lagi yang akan ingat dengan tumpukan pajak bernilai miliaran rupiah yang masih belum dibayarkan? Tebakan saya, nantinya akan hilang juga dihembus berita berita lain yang lebih sensasional. Strategi yang bagus sebenarnya dari grup 21Cineplex. Desakan masyarakat dijadikan pembenaran, sehingga mereka memunculkan solusi berupa Omega Film. Solusi yang hanya menambah masalah.

Tulisan ini saya buat berdasarkan pemberitaan media yang ditambah dengan opini saya. Bisa jadi saya termakan pemberitaan. Tapi bisa jadi ini benar dan media berusaha untuk menguaknya. Saya sih berharap mereka yang mengerti tentang masalah perpajakan maupun film mau membahas masalah ini agar masyarakat terbuka pikirannya.

Saya tidak ingin Harry Potter menang akan pajak.

Saya tidak ingin masyarakat dibutakan dengan konsumerisme akan film Hollywood ketika negaranya sendiri dirugikan.

 

Advertisements

2 thoughts on “Harry Potter vs Pajak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s