Lentera Jiwa secara Deskriptif

Angin malam yang masuk lewat jendela angkot terasa gerah. Tiara yang merasa kepanasan lalu membetulkan ikatan rambutnya agar tidak ada sehelaipun yang mengenai leher. Adzan maghrib sudah lewat namun udara belum terasa dingin. Malam di Bandung yang tidak seperti biasanya.

Ia mengeluarkan blackberry-nya dari kantong tas dan mendesah ketika melihat warna oranye berpendar pendar sebagai penanda bahwa smartphone itu sudah kehabisan energi untuk berfungsi. Lampu lalu lintas yang berganti warna bercampur dengan lampu pedagang kaki lima di simpang dago. Angkot memberikan efek kebosanan dan kebosanan membuat pikirannya melayang ke hari sebelumnya. Perbincangan tentang lentera jiwa akhir akhir ini terdengar dimana mana. Mahasiswa yang gundah gulana akan tujuan hidupnya seperti disentil oleh perbincangan tersebut. Tiara tersenyum kecil sambil berpikir ‘ah, masa depan’

Angkot berjalan lebih cepat setelah melewati simpang Dago. Ketika supir angkot memutuskan untuk tancap gas alih alih berhenti untuk menunggu penumpang, Tiara bernafas lega. Ia yakin tidak ada seorang pun yang berminat menghabiskan waktu berlama lama di angkot. Lampu Alfamart yang putih dan terang sudah terlihat dan ia pun turun. Perutnya tidak dilanda rasa lapar, tumben. Oleh karena itu ia hanya membeli satu kotak Ultra Milk 250 ml untuk menemani malamnya.

Langkahnya menuju kosan terhenti sejenak saat melihat segerombolan anak kecil berlarian. Apa itu yang mereka lempar? Petasan. Petasan dilempar ke arahnya. Mengikuti refleksnya, Tiara berlari untuk menghindari petasan yang gagal menyala itu. Aneh aneh saja tingkah laku anak kecil di bulan Ramadhan. Masih untung petasan itu kualitasnya jelek jadi tidak menyala.

Rutinitas terjadi begitu Tiara memasuki kamar yang telah dihuninya lebih dari 3 tahun itu. Meletakkan tasnya, menukar ikat rambutnya yang kencang dengan yang agak longgar, melepas gelang gelangnya, menyalakan laptop dan speaker, memasang charger pada blackberrynya, ganti baju, lalu menikmati kasur sejenak. Selalu seperti itu, hampir tidak pernah berubah.

Hari ini ia merasa kurang produktif sehingga banyak sekali imajinasi, pemikiran, kegelisahan, dan ide ide di kepalanya. Terlalu banyak hingga ia bingung memilihnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menulis kebingungannya itu. Ia beranjak ke laptop lalu menyalakan lagu. Kesunyian tidak pernah menjadi favoritnya. Setelah berlama lama melakukan rutinitas internet (baca: buka twitter, email, facebook, tumblr) kemudian ia membuka website kesukaannya, blognya.

Menulis membuatnya lebih tenang. Menulis membuatnya melepas kegelisahan. Menulis membuatnya bisa disembunyikan oleh kata kata. Menulis yang membuatnya bahagia. Menulis adalah lentera jiwanya.

Tiara menulis dengan gaya deskriptif karena ia sedang ingin bermain kosa kata dan menilik setiap gerakan kecil dari rentang waktu singkat. Ternyata menyenangkan. Semoga kalian juga senang membacanya đŸ™‚

 

Advertisements

2 thoughts on “Lentera Jiwa secara Deskriptif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s