Tuhan, Pluralisme, dan Keluarga

Saya tidak pernah menganggap diri saya religius.

Bukan berarti saya tidak percaya Tuhan ya. Saya percaya dengan segenap hati ini. Tetapi memang masih banyak yang kurang dari diri saya sebagai seorang Katolik.

Saya dibesarkan di keluarga besar yang sangat ‘diverse’ di bagian agama. Berkat itu, saya, kakak dan adik saya memiliki pemahaman yang berbeda beda tentang pengalaman kami dengan Tuhan. And that’s okay.¬†Mengapa tiba tiba saya membahas topik ini di blog yang amat sangat jarang (dan tampaknya belum pernah) membahas tentang isu religiusitas ini?

Tadi saat misa sore, bacaan pertama adalah dari Kitab Yesaya. Saya akan mengutip sedikit.

Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain

Interpretasi orang orang pada ayat itu akan berbeda beda.

Saya menangkapnya begini. Tuhan itu satu. Siapapun kamu, tinggal dimana, apapun agamamu. Tuhan itu satu. Yang kamu elu elukan dan aku puji pun sama. Yang kita lakukan hanyalah metode yang berbeda. Tidak ada yang salah dengan cara saya memuji Dia. Tidak ada yang salah juga dengan cara anda memuliakan Tuhan.

Orang orang menyebut pemikiran saya ini dengan istilah pluralisme.

Beberapa orang (atau mungkin banyak orang) memiliki interpretasi yang berbeda dengan saya terhadap kutipan ayat itu. Silakan. Saya mengemukakan pendapat saya bukan berarti saya tidak menghormati pendapat anda. Tetapi ketika kepercayaan dan pemahaman kami yang tidak merugikan siapa siapa ini dihujat, dihina, dan dilarang; saya baru merasa itu masalah.

Orang orang berkata bahwa pendidikan agama bermula dari keluarga. Saya setuju. Dan sekarang saya bersyukur ketika kami berlima memiliki pandangan yang berbeda beda tentang cara kami berhubungan dengan Tuhan. Saya tidak dibaptis menjadi Katolik saat bayi, namun saat SD. Setidaknya sudah ada kesadaran dari diri saya ketika saya mengucapkan janji baptis tersebut. Ketika pada usia 17 tahun dan saya harus menuliskan sesuatu di kolom agama (dimana saat ini Ibu saya sudah mengosongkan miliknya), saya memilih untuk menulis Katolik.

Saat ini, sedikit banyak saya bisa memunculkan pertanyaan pertanyaan dari dalam diri sendiri tentang kereligiusitasan ini. Mengapa harus Katolik? Mengapa harus cara ini yang saya pakai untuk berkomunikasi dengan Tuhan? Apa maknanya simbolisme simbolisme ini?

Momen saat pertanyaan pertanyaan itu muncul adalah momen yang berharga bagi saya pribadi. Itu berarti saya menyediakan ruang bagi Tuhan untuk mengisinya dengan jawaban. Yang harus saya lakukan saat ini adalah mendengarkan. Mungkin Tuhan sudah terlalu banyak mendengarkan permintaan saya dan sekarang sudah seharusnya saya menyediakan diri untuk mendengarkan jawaban-Nya.

Saat saya masih remaja (mentang mentang sekarang udah 20an), saya selalu membayangkan bahwa Tuhan adalah puppet master yang memegang tali tali yang dihubungkan ke kepala kami. Bahwa kami ini hanyalah bagian amat sangat kecil dari agungnya semesta. Bahwa kami bisa bergerak kemanapun kami mau tapi Ia yang memiliki kendalinya.

Saya mungkin bukan orang yang religius. Tetapi saya menghormati cara anda anda sekalian untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Saya berharap anda anda pun melakukan hal yang sama karena anda toh mengaku religius dan dekat dengan Tuhan.

Pernahkah Tuhan meminta anda untuk menindas yang tidak pernah merugikan anda sedikitpun?

Advertisements

3 thoughts on “Tuhan, Pluralisme, dan Keluarga

  1. Sebenarnya agak mengganjal di bagian, Tuhan itu satu… Mungkin buat orang yang percaya monoteisme itu bisa dianggap sesuai. Tapi agak meleset dari pandangan yang politeisme kan? hehehe Overall gue setuju Ti. Harusnya ketika orang memutuskan untuk memeluk suatu agama karena memang itu kehendaknya, bukan cuma karena disuruh untuk melakukan itu.

    • maksudnya politeisme seperti di agama Hindu & Budha ya ag? Kalau menurut gw, itu adalah salah satu simbolisme di dalam agama, yaitu ketika Tuhan digambarkan dalam beberapa simbol. Pada dasarnya kan Tuhan yang melindungi dan mendengarkan doa kita kan hanya satu.

  2. Spiritualitas itu bening, tak berwarna. Jadi, mengapa kita tidak dapat melihat, mengenal Tuhan secara pribadi? Karena kita mewarnai Tuhan dengan berbagai macam warna, kita melihat dan memaknai Tuhan dengan kacamata berwarna dan kita terlalu berani mengurung Tuhan di dalam warna2 tsb dan inilah yg terjadi: warnaku yg terbaik, warnaku yg terindah, warnaku yg paling benar, warnaku yg paling pas, warnaku menyelamatkan. Agama, apapun itu , tidak ada yg membawa keselamatan hidup. Apalagi kebanggaan terhadap agama, meninggikan agama membawamu dalam kesombongan rohani dan penyembahan berhala agama.

    Jika dirimu percaya YESUS, kenalilah Beliau scr pribadi dan taatilah firmanNYA dan ijinkan ROH KUDUS, Roh Penghibur, Roh Penuntun mengurapimu sepenuhnya karena ROH KUDUS itulah yg menuntun hidupmu di dunia ini, menuntun dan menyertaimu saat akhir jaman, dan menuntunmu dalam kematianmu sebagai CAHAYA yg akan membawa rohmu kembali pada yg Empunya yaitu BAPA Surgawi.

    Salam sejahtera…Salam sukacita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s