Ikan, racun, dan ‘dia’

Bagaimana jadinya jika seseorang yang udah tau dia alergi sama jenis ikan tertentu, tapi tetap memakannya?

Alasannya: enak dan penasaran. Lagipula belum tentu yang ini akan membuat dia sakit. Sebelumnya dia belum pernah makan ikan ini. Dia hanya tahu bahwa ikan ini bisa membuatnya sakit. Tapi, belum ada buktinya kan?

Akhirnya ia mencobanya. Sesuap, enak! Dua suap, enak banget! Tiga suap, rasanya mau makan ikan ini terus. Ternyata tubuhnya tidak bisa menahan si racun ikan yang masuk itu. Benar kan, iya tidak kuat. Tetapi ia tetap memaksa untuk menghabiskannya karena ia percaya bahwa ia bisa sembuh dengan sendirinya. Entah kapan.

Pada akhirnya, orang orang di sekitarnya yang meminta ia untuk berhenti. Enaknya ikan itu tidak sebanding dengan kesehatannya. Ia berusaha bertahan, namun tubuhnya sendiri yang menolak. Terpaksa.

Mau tak mau, dia sudah terlanjur sakit. Butuh waktu lama agar dia bisa sembuh. Tapi dia bisa sembuh asalkan dia tidak makan ikan itu lagi. Cukup jelas.

___________________________

Tentu saja ikan, racun, dan ‘dia’ yang diceritakan di atas adalah metafora. Bagi yang bisa menerka tepat dengan apa yang saya maksud, selamat. Bagi yang tidak, that’s okay. Bisa diartikan dengan apa saja kok. 

*ditulis berdasarkan obrolan bersama Lieke, Chita, Intan, & Dida*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s