Another version of Miss Tantrum

Kemarin saya berkesempatan menjadi mentor untuk anak anak SMP di Ecoschool VIII, salah satu proker HMTL ITB. Tujuan acara ini adalah untuk memberikan wawasan bagi anak anak SMP tentang lingkungan dengan cara yang menyenangkan.

Saat saya sampai di kelas saya bersama mentor mentor lain, ada salah satu siswa bernama Chusnul.

Saat saya mengabsen, dia sibuk menggambar di bukunya. Saat penjelasan materi pun tetap begitu. Namun ketika ia dan kelompoknya pergi keluar kelas untuk survey, ia sangat bersemangat. Ia memimpin teman temannya, aktif mengingatkan, dan baik baik saja layaknya anak SMP lainnya.

Tapi tampaknya ada sesuatu yang mengubah arah perasaannya sehingga tingkah lakunya di kelas berubah. Saya sempat melihat ia seperti ngomel ngomel sendiri, menggigit gigit tali nametag-nya hingga putus, hampir menggunting celana salah satu mentor, hingga membanting sapu saat bersama sama menyapu kelas. Salah satu mentor sudah berupaya menanyakan mengapa dia begitu kesal namun ia tak mau bilang.

Ketika kami mau berfoto bersama, ia ngambek. Jongkok sambil menyilangkan tangan dan bermuka masam. Saya juga sempat melihat ia bersandar di tembok dan menjatuh jatuhkan dirinya. Terakhir, ia memisahkan mejanya dengan teman temannya dan asik menggambar tanpa mendengarkan penjelasan kami.

Para mentor bingung. Saya pun belum tahu bagaimana kami harus menanganinya minggu depan ketika bertemu lagi.

Namun satu hal menarik dari pengalaman kemarin yang membuat saya menulis cerita ini di blog adalah, I used to be Chusnul.

I’m sure that she’s not autistic. What happened to her is she can’t control herself and her emotion. Just like me, several years ago.

Saya moody, temperamental, dan akan marah ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginan saya. Oh marah-nya bisa diwujudkan dalam bentuk hal. Nangis di depan umum, cemberut, marah marah, banting banting barang, pukul pukul tembok, anything to make a scene and get everyone attention. Habis itu bisa aja langsung diem, main sendiri lagi, ketawa ketawa, trus tendang tendang barang lagi. Malesin banget ya? Yep, itu saya ketika usia SD-SMP.

So, apa yang menghilangkan hampir semua itu? Ibu saya. Apakah beliau berusaha memanjakan, memenuhi apa yang saya inginkan agar tidak marah, dan menenangkan? Tidak. Beliau memarahi dan justru membiarkan saya hingga akhirnya saya malu sendiri dan akhirnya sakit sendiri dari ninju ninju tembok. Beliau menunjukkan bahwa tidak ada yang mau berteman dengan saya ketika saya marah marah sendiri dan bermuka masam. Beliau menyadarkan saya bahwa saya bukan satu satunya orang di dunia ini sehingga semua keinginan saya harus terjadi.

Sekarang, sifat moody dan temperamental itu masih ada. Tapi seiring dengan bertambahnya usia, teman teman, dan pergaulan, mengontrolnya menjadi lebih mudah. Pernah sih kelepasan banting HP atau mukul mukul meja pake sendok atau marah marah sendiri dengan suara kecil. Hehehe. Tapi yang jelas saya bersyukur sekali mendapat metode penanganan yang cocok dari Ibu saya. Makin hari makin sadar bahwa senyuman membuat saya lebih cantik dan mendapat perhatian daripada banting banting barang.

My ex used to call me miss tantrum. ‘Tantrum’ means a fit of bad temper.

For now, Chusnul is our miss tantrum and I hope she has an extraordinary mother, just like mine, so she will be no miss tantrum in the future. 

 

Advertisements

One thought on “Another version of Miss Tantrum

  1. Yang hebat adalah “yang mau berubah” tp berubahlah dengan “iklas”
    Krn kalau “terpaksa”, maka akan jadi bom waktu, karena suatu saat akan meledak dan kembali seperti si “Tantrum” lagi deh…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s