the most wonderful time of the year

It’s Christmas.

Setiap tahun saya dan umat kristiani lainnya merayakan natal. Setiap tahun kami berangkat ke gereja, mengikuti ekaristi, memberi ucapan selamat natal, merayakan bersama keluarga dan orang terdekat. Apa bedanya natal hari ini dengan natal tahun tahun sebelumnya dan tahun tahun ke depan?

Menurut saya, hari raya apapun (termasuk di dalamnya hari raya keagamaan) adalah momentum yang memiliki makna tersendiri. Makna tersebut bukan hanya didalami saat hari raya, namun hari raya mengajak kita untuk mengingat kembali, membuat kita untuk berpikir lagi.

Natal juga begitu.

Yang bisa membedakan tanggal 25 Desember dengan tanggal lainnya, yang bisa membedakan natal tahun ini dengan tahun lalu, adalah ketika saya bisa memberikan makna di dalamnya. Dulu dulu rasanya saya belum pernah kepikiran untuk memberikan makna itu. Hari hari raya itu berjalan seperti sudah kebiasaannya. Apalagi ketika saya 12 tahun berada di sekolah Katolik. Ritual ritual menjelang hari raya menjadi suatu hal biasa yang terulang dan akan aneh ketika tidak dilakukan.

Ketika masuk ke dunia kuliah dan menjadi minoritas, tidak ada lagi ritual ritual yang diarrange khusus untuk kami. Kami yang harus mencari sendiri, kami yang harus menumbuhkan kemauan, kami yang harus tahu mengapa kami melakukan ritual ritual tersebut. Itu yang sebelumnya tidak ada dalam diri saya. Hingga masa advent kemarin.

Ada peristiwa antara saya dan beberapa teman saya yang menunjukkan bahwa saya belum bisa mendengarkan. I don’t listen to them, I don’t listen to myself, and I was thinking: do I listen to God? Peristiwa itu membangkitkan banyak kegelisahan dalam diri saya hingga kemudian saya membaca berita tentang Pengrusakan Goa Maria di Tawangmangu.

Saya menangis.

Saat itu saya berpikir, mengapa ada orang yang tega merusak tempat ziarah kami? Ya, itu ‘hanya’ patung. Tapi merusaknya sungguh melukai perasaan kami. Saya menjadikannya sebagai bahan introspeksi bagi saya sendiri. Apakah saya sudah menjadi pribadi yang cukup baik? Apa mungkin ini adalah teguran Tuhan untuk kami kami ini?

Sorenya, saya ke gereja untuk melakukan hal yang sudah saya tinggalkan selama 4 tahun: mengaku dosa.

Di gereja Katolik, ada yang namanya Sakramen Tobat dimana kami mengakui dosa dosa kami di hadapan Tuhan yang diwakili oleh Pastor. Pengakuan dosa dapat dilakukan kapanpun namun biasanya sebelum Paskah dan Natal. Saat SD – SMA, hal tersebut difasilitasi oleh sekolah. Kami tinggal berbaris rapi, masuk ke ruangan, keluar, berdoa, lalu kembali ke kelas. Saat kuliah, ternyata tidak menjadi sesimpel itu.

Saat saya harus melakukannya berdasarkan kemauan sendiri, muncul berbagai macam perasaan. Malas, takut, merasa tidak pantas, dan terpikir bahwa tidak apa apa bila tidak melakukan. Saya bersyukur karena sudah memberanikan diri untuk mengakui betapa berdosanya saya. Dan setelah saya keluar dari ruangan itu, pertama kalinya setelah 4 tahun, saya menangis lega.

Saya tidak menyangka akan merasakan perasaan seperti itu. Perasaan bersyukur karena Tuhan masih mau mengampuni saya. Bahwa saya yang sudah terlalu lama melupakan-Nya masih boleh bicara dengannya, masih diterima di rumah-Nya, masih diijinkan meminta kepada-Nya. Saya menangis sendirian di gereja cukup lama.

Dan di sisa masa advent setelahnya saya mencoba mencari makna dari setiap hal yang saya lakukan. Saya melangkah pelan pelan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan agar tidak jatuh ke lubang yang sama lagi. Saya bersyukur karena bisa memaknai Natal tahun ini dengan perubahan bagi diri saya sendiri. Makna makna seperti kesederhanaan, pribadi yang baru, menjadi terang dan pembawa damai; tidak lagi hanya menjadi kata kata belaka tapi saya coba terapkan untuk setidaknya diri saya sendiri.

Tuhan selalu menunjukkan jalan untuk kita. Tinggal apakah kita melihatnya dan mau mengikutinya. Di natal tahun ini, Tuhan memperlihatkan jalan yang harus saya lewati dan saya pun berusaha mengikutinya. Semoga perubahan ini benar benar nyata. Tulisan ini saya buat untuk terus dan terus mengingatkan saya pribadi. Tapi saya juga senang bila tulisan ini juga bisa membuat teman teman berpikir, apakah kita sudah mendengarkan Tuhan?

Selamat Hari Natal

Semoga damai Tuhan selalu beserta kita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s