A blessing in disguise

Saya orang yang suka berencana. Dulu. Hingga akhirnya saya merasa justru terlalu banyak kecewa lalu marah dan lelah. Itulah mengapa sebenarnya dulu dulu saya gak suka bikin resolusi. Takut kecewa.

Hingga kemudian saya mulai menemukan diri saya sebenarnya yang optimis. Bukan perencana saklek dan kaku tapi orang yang percaya pasti bisa dan selalu berusaha berpikir positif. Mulailah saya membuat resolusi, target, mimpi. Termasuk saat memasuki tahun 2012, saya juga membuat resolusi. Salah satunya adalah: “lulus tahun ini!”

Setelah pergantian tahun, lalu mengikuti kulap bersama kawan seangkatan ke Batam & Singapura, datanglah satu hal yang ditakuti oleh seluruh mahasiswa di seantero dunia. Nilai sudah keluar. Saya sengaja tidak melihatnya saat masih kulap karena tidak ingin mengurangi sedikitpun kesenangan kulap itu. Saya pulang jumat siang, dan membuka internet di jumat malam.

Di situlah saya harus menghadapi satu kenyataan. Ada 1 mata kuliah yang D. Berarti tidak lulus. Berarti mengulang.

Ya, mengulang bukan akhir dunia. Namun mengulang mata kuliah semester ganjil berarti kemungkinan saya untuk lulus tahun ini sudah tertutup rapat. Sebagai info, TL tidak membuka semester pendek ataupun mengijinkan mahasiswanya mengulang di semester yang berbeda. Dan sebagai info juga, dengan batasan batasan yang dibentuk ITB, normalnya waktu kuliah di ITB adalah 4 tahun.

Hari berikutnya, saya tidak bisa ngapa ngapain. Hanya pikiran ini yang penuh dengan penyesalan, kekhawatiran, ketakutan

Ngapain aja sih gw semester kemarin?

Kalau wisuda april nanti berarti udah ditinggalin duluan dong sama sahabat sahabat.

Gimana caranya bilang ke orang tua?

Lo sih ti, berasa keberuntungan pasti bisa menyelamatkan segalanya

Dan pikiran pikiran lainnya. Saya tidak menangis atau marah tapi justru tidak bisa melakukan apa apa. Akhinya saya cerita ke orang tua. Sebenarnya salah satu hal yang memberatkan adalah berarti semakin lama saya lulus, makin banyak biaya yang harus orang tua keluarkan untuk saya. Namun bapak dan ibu menerima dengan berbagai nasihat seperti coba diusahakan lagi, tetap kerjakan TAnya, fokus di semester berikutnya, sekalian perbaiki IPK, dll.

Saat balik ke Bandung, saya makin gloomy. Puncaknya adalah waktu sore sore, saya seperti biasa ada di depan laptop dan  BB saya berdering serta memunculkan nama ‘Iqbal Ariefandi’

Teman saya ini memang paling perhatian ya tampaknya, sehingga dia sadar saya lagi galau gloomy sedih padahal saya belum cerita juga ke dia. Akhirnya keluarlah semua emosi sedih, takut, kecewa, khawatir yang beberapa harinya cuma tersimpan saja. Dan dia dengan tanggapannya yang gak biasa, bisa membuat hati ini jadi lebih lega. Plong. Saya inget saya bilang “tapi gw udah bikin resolusi yang segitu rapinya kok, dan semuanya berujung ke lulus tahun ini” lalu dibalas sama dia “ah resolusi mah bisa diganti kapan aja kali ti.”

Luar biasa juga sahabat dan teman teman dekat saya yang ngejar ngejar saya biar ketemu dosen, ngebandingin nilainya, menyemangati biar saya gak merasa ditinggalkan. Luar biasa juga bendapejal yang dengan caranya masing masing memperlihatkan bahwa lulus April is not that bad.

Setelah mengusahakan ke dosen, ternyata hasilnya tidak bisa diubah.

Beruntungnya saya dalam proses ini merasakan beberapa pembelajaran dan pola pikir baru. Yang terutama adalah makin menyadari bahwa banyak yang peduli sama saya. Terima kasih teman teman.

April 2013, here I come!!

What do cheerful people say when something crappy happens and they make it sounds like it wasn’t crappy? A blessing in disguise.

Advertisements

One thought on “A blessing in disguise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s