Berbeda? Siapa takut!

Ti, nikah beda agama itu mungkin gak sih?

Satu pertanyaan random dari seorang teman di suatu sore, entah kapan itu. Random karena kenapa tau tau nanya ke saya dan gak ada bridging sebelumnya gitu lho. Bahasa lainnya, tanpa basa basi.

Sudah lama juga saya sebenarnya ingin menulis tentang ini namun belum ada dorongan yang segimananya. Lalu kemarin saya membaca tweet seorang tokoh yang bilang bahwa sorenya ada diskusi tentang nikah beda agama di Common Room, Bandung. Ah, kata saya dalam hati. Coba saya baca lebih dulu, pasti saya mengusahakan hadir. Lalu saya membuka timeline  @KusumadewiDifa yang membahas hasil diskusi sore itu.

Ternyata konten diskusinya tidak jauh dari apa yang pernah saya baca dan saya tahu. Buku yang saya baca adalah ‘Kado Cinta bagi Pasangan Nikah Beda Agama’

null

Mungkin ada teman yang bertanya tanya “gilaaa tiara bacaannya udah begituan. udah siap nikah ya ti? udah ada calonnya?” Hahaha, saya jawab pake ketawa aja ya. Belum, belum kok. Buku ini adalah koleksi ibu saya.

Ya, saya berasal dari keluarga beda agama. Dan setelah dilihat lihat lagi, keluarga besar saya pun sangat beragam karena banyaknya pasangan nikah beda agama di dalamnya. That’s why obrolan tentang nikah beda agama menjadi sering dilakukan dan saya pun mendapat pasokan bacaan sejenis ini. Apakah kemudian saya diarahkan untuk menjalani nikah beda agama? Tidak, bukan begitu. Hanya saya dan rasa keingintahuan saya yang berlebih yang membuat saya banyak baca dan mencari tahu sendiri. Orang tua menjelaskan keadaan, kelebihan, kekurangannya namun tidak menyarankan. Mereka hanya berusaha membuat kami open minded.

Buku itu menjelaskan tentang pandangan agama agama yang dianggap sah di Indonesia tentang nikah beda agama itu sendiri. Juga menceritakan kisah beberapa pasangan nikah beda agama dan juga cerita bagaimana mereka menikah secara legal dan tidak berganti agama dan tetap menjalankan hidup mereka seperti biasa.

Kembali ke pertanyaan teman saya di atas. Mungkin gak sih? Jawabannya: mungkin. Dari segi cara dan legalitas, nikah beda agama masih bisa dilakukan dengan prosedural yang memang lebih rumit daripada nikah biasa. Mbak @KusumadewiDifa menjelaskan tentang beberapa alternatif caranya yang akan saya coba bagi di sini:

  1. Menikah di luar negeri, kemudian mengurus surat surat pengesahan di dalam negeri
  2. Menikah dengan keputusan pengadilan, cara yang cukup rumit, lama dan mahal
  3. Menikah secara sipil tanpa melalui penghulu dari KUA.
  4. Menikah dengan 2 cara keagamaan & dilanjutkan dengan pencatatan sipil

Detilnya alternatif di atas saya kurang paham, namun saya hanya mau menegaskan bahwa secara legalitas, nikah beda agama bukan tidak mungkin.

Tetapi mungkin tantangan terbesar bukan dari cara ya, tapi dari masyarakat, keluarga, dan tentunya diri sendiri. Itulah yang menjadi variabel untuk menjawab pertanyaan teman saya itu, mungkin atau tidak.

Pandangan yang ada di masyarakat umumnya adalah pernikahan beda agama lebih banyak membawa kesulitan. Faktor perbedaan itu akan merembet pada ketakutan salah satunya berpindah agama, perbedaan pemahaman, kebingungan cara memberikan pendidikan agama pada anak nantinya, dan lain lain. Bukan hanya pada masyarakat, keluarga, dan bahkan pribadi masing masing pun pasti ada pemikiran seperti itu.

Saya mencoba sharing pemikiran saya. Bagi saya, Tuhan itu satu dan agama yang berbeda beda adalah cara kita masing masing untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Oleh karena itu, saya merasa tidak ada kekhawatiran berpindah agama bila menikah beda agama karena saya yakin dengan cara saya berkomunikasi dengan Tuhan. Saya tidak takut akan perbedaan pemahaman karena Tuhan kita sama kok, berarti dasar dasar ajaran hidup yang diberikan sama toh. Saya tidak khawatir anak saya nantinya akan beragama apa, karena seorang anak memilih agama bukan berdasarkan turunan agama orang tuanya melainkan dari cara berkomunikasi dengan Tuhan yang paling cocok dengan dia.

Huwaaaah, lega rasanya menuliskan itu semua. Hahaha.

Kembali lagi ke pertanyaan teman saya, mungkin atau tidak itu lagi lagi kembali ke tiap persona. Saya mungkin memiliki pemikiran seperti itu tetapi mungkin tidak dengan mantan pacar saya and that’s why we didn’t work out. Kedua orang tua saya untungnya memiliki pemikiran yang sejalan tentang hal ini sehingga bisa bertahan 26 tahun dan masih berjalan. Beberapa pasangan yang berbagi cerita di buku itu bisa menjalaninya, namun juga banyak cerita lika liku mereka yang mengusahakan namun gagal. Teman teman saya pun bervariasi pemikirannya tentang hal ini.

Yang ingin saya tekankan di sini adalah, ketika anda merasa bahwa nikah beda agama adalah jalan anda, jangan biarkan negara dan masyarakat menghalangi cinta anda. Ada aja kok caranya bila anda memang mau. Namun ketika anda tidak bisa, bukan berarti teman anda tidak bisa juga. Ketika anda percaya bisa namun pasangan tidak yakin, pikirkanlah lagi. Saya pernah di posisi itu dan itu bukan pengalaman yang menyenangkan.

Mengutip mbak @KusumadewiDifa,

Untuk saya pribadi, negara bukan biro jodoh yg mengatur kepada siapa kita boleh mencintai

Advertisements

9 thoughts on “Berbeda? Siapa takut!

  1. Menarik. Pertama, saya salut dengan kejujuran dan keterbukaan Anda. Nggak semua orang bisa kayak gini.

    Kedua, setahu saya di dalam agama Anda yang sekarang melarang pernikahan beda agama, bukan? Kalau benturannya adalah agama Anda sendiri (bukan negara), itu gimana?

    Ketiga, dalam hidup ini saya juga selalu berusaha mencari Tuhan sih, Ti. Makanya saya berusaha mengerti makna ibadah yang saya jalankan setiap hari.

    • sepanjang yang saya tahu ya gan, agama saya tidak melarang. Tapi memang pasangan beda agama harus melalui proses utk bisa mendapatkan dispensasi.
      Seperti yang saya tulis di salah satu alternatif di atas, ada cara untuk tidak menikah secara agama melainkan hanyalah lewat catatan sipil. Bukan menganjurkan ya hanya menjelaskan saja bahwa itu mungkin untuk dijalankan

  2. hi tiara, thankyou for sharing this for me 🙂
    gue termasuk golongan orang-orang yang hidup di lingkungan yang menolak hubungan berbeda agama sih, its quite sad but its true. jadi mungkin kayak yang di film film *halah* pilihannya adalah kebahagiaan diri sendiri atau kebahagiaan orang tua. which is gue gamau jadi anak durhaka juga jadi lebih suka memilih membahagiakan keluarga gue hehe.. *dan gue blak blak an banget ngomong disini*. dan hal itu juga yang dirasakan oleh *kalau bisa dibilang* pasangan (?) gue saat ini. tapi seneng baca tulisan ini, at least, there will always be a chance walaupun sekecil apapun. hihihihi 🙂

  3. Wah sharing yang bener-bener menarik Ti 🙂
    Gue sebenernya sebtuju aja sama nikah beda agama karena toh agama itu cuma label ketika kita di dunia untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Negara kita mengatakan bebas memeluk agama berarti bebas juga dong nikah beda agama. Hehehe 😛
    Tantangan terbesar adalah keluarga apalagi kalau keluarganya tuh semuanya homogen dalam beragama yang membuat pemikirannya jadi gak seterbuka itu, mungkin kayak keluarga lo. 😀

  4. Ti ikut berkomentar, baru aja gw ngebahas tentang perbedaan, tiba2 lo juga nulis ttg beda agama, td gw ga bahas sedetail lo sih haha.
    Keluarga besar gw juga beda agama ti, bokap gw satu2nya yg pindah agama dikeluarganya.
    Kalau gw pribadi sih, gw sepaham dgn pernyataan lo yg blg “Tuhan itu satu”, emang seharusnya cuma satu dan hak pribadi setiap org utk mempercayai yang manakah yang satu itu.
    Nah tp masalahnya, kalau di Islam (setau gw) nikah beda agama ga boleh, thats why bokap gw pindah, krn setelah gw dalami, emang ajarannya terlalu berbeda utk disatukan (menurut gw ya), oleh sebab itu gw termasuk org yg (lebih memilih) utk tidak menikah beda agama, hehe

  5. Hi All,
    Just want to comment :

    Kondisi yg sangat rumit, ketika harus memilih antara keluarga, hukum, masyarakat atau dia?
    Seperti cerita fiksi memang, ketika dua orang saling mencinta harus menentang semua norma n nilai demi rasa yg mereka yakini adlh kebahagiaan mereka.
    mengingat kerumitan dan benturan2 nilai2 yg hidup di masyarakat, “saya yakin semua orang ingin menghindari pernikahan beda agama”
    Namun jika kondisinya demikian?

    Sebagai orang percaya, saya yakin semua orang akan berkata ” subuah pertemuan ataupun perpisahan adalah kehendak DIA “. Demikian juga Jodoh, semua orang yakin jodoh di tangan Tuhan. Sebagai manusia yang dikarunia akal harusnya bisa membedakan tanda-tanda selama menjalani hubungan mereka. Jika memang dengan hubungan beda agama mereka menjadi lebih baik dan taqwa, lebih memberi cinta dan kepedulian pada sesama, lebih menghargai hidup dan menawarkan semangat hidup, mengapa harus mengikuti nilai-nilai yg ternyata akan membuat dan menambah kesengsaraan bagi orang lain?

    Intinya adalah,
    jika hubungan beda agama ternyata membawa kebaikan dan kebahagiaan bagi lebih banyak orang walau harus menentang keluarga, adalah lebih baik daripada pernikahan satu agama namun hanya membawa penderitaan orang lain demi kebahagiaan keluarga.

    salam

    W. Gultom

  6. Dear Mba Tia,

    Kereeeeeeen,,,Hidup yang aku ingin terapkan dalam keluarga kecil aku nanti,Mba.

    Terkadang kita sebagai manusia suka lupa akan 1 Hal yaitu,

    “KITA TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMBACA POLA PIKIR TUHAN!!!”

    banyak yang bilang JODOH, REJEKI dan MATI hanya TUHAN yang tahu. Jadi pleasee bgt jangan pernah menjadi Tuhan dalam 3 hal Itu. siapa yang tahu jodoh kita dari kalangan apa, atau dari suku apa, atau juga dari Agama apa?. Karena itu adalah suatu rahasia Ilahi, dan sebuah misteri besar dalam hidup kita.

    yang penting adalah “Kasih”, Penuhilah kasih dalam keluarga kecil kita, jangan menyakiti, jangan mengkhianati, dan jangan lupa mengingatkan..

    seagama tapi menyakiti untuk apa???
    seagama tapi di cerai unutk apa???
    seagama tapi tidak perduli, untuk apa???

    “Biarkan KASIH yang bekerja, walaupun Dunia akan terus menghina”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s