#ceriTA

Setelah lihat lihat archive blog, baru sadar kalau saya belum pernah bercerita tentang tugas akhir saya. Pernah sih disinggung singgung tapi belum pernah dijelaskan secara utuh. Well, secara saya membuat blog ini untuk mengingat ingat momen penting dalam keseharian saya, jadi kayanya harus ditulis juga ya

Di jurusan saya (Teknik Lingkungan ITB), tugas akhir bisa diambil mulai di semester 8. Jurusan lain ada yg bisa diambil dari semester 7 dan biasanya dibagi ada TA 1 dan TA 2. Walaupun begitu, persiapan menuju tugas akhir sudah terasa sejak akhir semester 7 yaitu sekitar bulan November. Saat itu, kami mulai memikirkan topik apa yang kira kira akan kami selami untuk bulan bulan selanjutnya. Topik tersebut tentu saja tergantung cocok cocokan. Ada yang bilang, pemilihan topik TA itu dilema antara cari yang gampang biar cepat lulus, cari proyekan dosen biar dibiayai, atau yang sesuai passion.

Awal saya bisa topik TA sendiri berlangsung sangat cepat dan bisa berhasil atas bantuan teman baik saya, dida. Waktu itu di himpunan, Dida habis bertemu Bu Indah untuk konsultasi topik TAnya yaitu tentang pengolahan limbah batik. Ternyata topik yang dipilih Dida sangat luas dan masih bisa dibreak down jd beberapa topik lain yang bisa dikerjakan oleh orang lain. Saya pun langsung bereaksi cepat dan mengambil topik toksisitas limbah batik.

Belum pernah terlintas di benak saya bahwa topik TA saya adalah tentang limbah cair, terkait toksisitas, dan masuk KK Teknologi Pengelolaan Lingkungan. Awalnya saya lebih condong ke topik sampah, namun saya kurang berani mendekati dosen di KK tersebut dan entah kenapa belum menemukan topik yang pas. Oleh karena itu, ketika tiba tiba ‘toksisitas’ terbersit di hadapan, langsung saya ambil saja.

Pemilihan dosen pembimbing TA juga menjadi hal yang seru di kala itu. Semuanya tergantung cocok cocokan. Ada yang memang dari awal udah ngincer dosennya walaupun si dosen dikenal galak atau standardnya tinggi. Ada juga yang mencari dosen yang emang jago supaya benar benar terbimbing. Namun ada juga yang mendapat dosen pembimbing lewat ‘perjodohan’ yang dilakukan koordinator TA.

Saya sendiri dari awal sudah berdiskusi dengan Ibu Indah Rachmatiar tentang topik toksisitas ini karena tahun lalu beliau memegang 3 anak yg TA tentang toksisitas. Saya hanya diajar sekali oleh beliau yaitu Epidemiologi Lingkungan di semester 4. Si ibu memang terkenal baik, banyak senyum, dan tidak pernah marah. Waktu saya bertanya apakah Bu Indah mau jadi dosen pembimbing saya, beliau setuju karena saat itu baru ada 3 orang yg beliau bimbing.

Setelah melalui proses UGB dan proposal, akhirnya keluar deh surat tugas saya dengan TA yang berjudul “EVALUASI TOKSISITAS LIMBAH BATIK TRADISIONAL DENGAN UJI TOKSISITAS AKUT DAN SUB AKUT”

Prinsip dasar dari tugas akhir saya adalah untuk melihat tingkat toksisitas limbah batik, apakah masuk ke batas aman atau tidak pada konsentrasi tertentu. Cara mengujinya dengan menggunakan organisme. Simpelnya, saya menaruh beberapa jenis organisme uji di dalam limbah batik dalam jangka waktu tertentu dan melihat berapa banyak organisme yang mati. Yes, I’ll kill organisms 😦

null

ngebunuhin ini

Kata Melati, TA saya terdengar simpel. Betul, metodenya sendiri sudah ada di aturan dan sudah banyak dilakukan dengan berbagai macam limbah. Lagipula, saya tidak mengurus hingga pengolahan karena saya kurang tertarik (baca: gak ngerti ngerti amat) tentang pengolahan limbah cair. Makanya, Ibu Indah memberi tantangan tersendiri untuk saya yaitu lewat organisme uji-nya.

Sebelum sebelumnya, uji toksisitas hanya menggunakan 1 organisme uji, namun saya akan menggunakan 3 organisme uji. Satu organisme (Chlorella sp), dulunya dikerjakan oleh anak S2. Well, lumayan juga nih hehehe. Luckily, saya ditemani oleh 2 orang teman baik saya. Tidak, topik mereka berbeda dengan saya tapi mereka juga menggunakan limbah batik. Saya, Dida, dan Ary seperti memiliki perjanjian tidak tertulis bahwa akan saling bantu membantu. Kami bertiga pun satu dosen pembimbing. Meja di lab pun barengan, dipakai bergantian.

So far, saya belum running penelitian yang sebelumnya. Saya baru melakukan uji karakteristik awal dan juga mengembang biakkan organisme yang saya butuhkan. Saya sendiri memakai 2 laboratorium. Fufufu sounds like laboratory geek, huh? Agak ketinggalan sih memang dibandingkan ary dan dida, tapi saya pun tidak terlalu diburu waktu mengingat batas akhir penelitian adalah Januari 2013 dan target lulus April 2013 hehehe.
Tetap saja saya tidak boleh malas malasan. Bulan maret kemarin sudah penuh dengan excuse dan kemalasan yang dipicu oleh kegagalan pertama dalam memelihara chlorella. Hahaha saya sempat berasa malu sendiri sama dosen pembimbing karena sebenarnya sudah banyak orang yang bisa. But well, saya biasanya kan melihara anjing, bukan ganggang :p

Yang bikin saya malu kalau malas malasan juga adalah perjuangan teman teman saya. Dida bahkan ngambil sampel dari Solo. Teman saya bolak balik Bogor – Bandung. Ada juga yang sampling ke waduk ini, sungai itu, cari tanaman di sana sini.    Well, saya beruntung sekali. Sampling di Cigadung (yang mana deket kosan), chlorella bisa dapat dari lab biologi, daphnia bisa dapat dari pusair yang ada di Dago. Wew. Kayanya gak ada alasan untuk menyerah deh 🙂

Semangat semuanya buat yang lagi Tugas Akhir! Jadikan ini jejak terakhir kita di kampus ini 🙂

Advertisements

One thought on “#ceriTA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s