Pursuing passion

null

Kami berjalan dalam diam melewati lalu lalang manusia di taman itu. Diam, tangannya tak meraih tanganku. Aku memandang lurus ke depan, tidak berani melihat raut wajahnya. Lelah, kami sama sama lelah memikirkan ujung dari pembicaraan ini.

Kami melewati sebuah bangku dan ia berhenti, meraih tanganku, lalu duduk. Masih dalam diam. Kami sama sama memandang warna warni balon yang dimainkan tiga anak kecil di seberang lain taman. Aku ingin memecah keheningan, melepas kata yang tertahan di pangkal lidah. Pertanyaan yang mengganjal di dalam hati sejak kami sadar bahwa mau tak mau kami harus membicarakan hal ini. Hingga ia akhirnya mengambil alih keheningan ini.

“Tuhan itu baik. Ia mengabulkan mimpi saya dan mimpi kamu,”

“Jika Ia baik, seharusnya kita tidak naik penerbangan berbeda,”

“Mimpi kamu bukan untuk bersama sama dengan saya,”

Aku terdiam, tidak mampu untuk membalas perkataannya. Seharusnya aku tak perlu lagi merasakan sakitnya saat ini. Aku sudah paham resikonya ketika mengambil tawaran ini. Ketika di saat yang bersamaan, ia tak henti hentinya memuji nama-Mu karena kabar baik tentang beasiswanya.

“We’re young. It’s the time when we chase our dream first,”

“I want to chase my dream WITH you,”

“Then, what will I do with my own dream?”

Aku tak pernah membagi mimpi terbesarku ini dengan siapapun kecuali dirinya. Ia tahu bahwa tawaran ini adalah once in a lifetime. Ia tahu bahwa langkah kecil menuju mimpiku dimulai lewat penerbangan ke pelosok Kalimantan ini.

“Saya akan kembali, tidak akan lama,” kataku.

“Bullshit. Kamu akan jatuh cinta dengan apa yang kamu alami di sana. Sekali di sana kamu tidak akan kembali,”

“Kamu sendiri? Selepas beasiswamu, masih mau kembali ke Indonesia? Demi saya?”

Diam lagi. Kami sama sama tahu jawabannya. Saya tidak akan melepas mimpi saya untuk mengabdi sebagai dokter di pelosok Kalimantan dan ia melihat masa depan yang cerah dengan mengambil beasiswa sekolah musik ternama di Amerika Serikat.

“Saya bangga sama kamu,” katanya sambil meraih pundakku. Itu saja. Empat tahun bersama dan itu saja.

Ia lebih mencintai pianonya.

________________________________________________

fiksi singkat masih jelek haha.

inspired by grey’s anatomy season 5, when Yang trades Owen for surgery with Teddy. Dan juga dari dua kakak kelas saya, semoga suatu hari nanti they get back together :p

Pic from here

Advertisements

3 thoughts on “Pursuing passion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s