Manage Your Inner Critic

Hello readers! (berasa banyak yang baca)

Jadi beberapa hari lalu saya menonton America’s Next Top Model cycle 16 dan di episode tersebut para kontestan belajar how to deal with their inner critic. And it hit me. Wah kok topik ini pas sama saya ya? Akhir akhir ini saya merasa si inner critic ini keras banget suaranya. Bikin bingung, bikin gusar.

Apa sih inner critic ini sebenarnya?

Misalnya kamu terlalu sering merasa bahwa you’re not good or smart or creative enough. Atau walalupun hasil yang kamu dapat gak jelek, tapi kamu tetap merasa depresi dan tidak bahagia. Raise your hand if you’ve ever feel that condition.

It’s called impostor phenomenon, kondisi psikologis yang menggambarkan perasaan selalu tidak kompeten di saat kenyataan berkata sebaliknya. You’re not alone. Banyak orang yang mengalami hal tersebut termasuk saya beberapa saat lalu. Sepanjang waktu itu, saya kesal. Rasanya pingin nyumpel mulutnya si inner critic ini because she’s a bitch. Karena dia, semua yang saya lakukan rasanya salah.

Then I did some research (err, I googled it) and I found several article about how to manage your inner critic.

Ternyata, cara yang tepat untuk berhadapan dengan inner critic bukan dengan mengabaikan ataupun menyumpal mulutnya namun dengan membuat hubungan yang balance dengannya. Inner critic bisa memacu kita ke arah yang baik lho. Dia bisa menjadi alasan mengapa kita selalu ingin mencapai target lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Dia bisa membentuk kita jadi pribadi yang lebih kuat mentalnya.

A balance relationship. We can’t let our inner critic bully us. As soon as you hear your inner critic complaining, pastikan lagi: is it helping you? or hurting you?

Kita bisa menjadikan inner critic as a jealous friend. They want to be as good as us but we keep being better. Or it can be your mentor. It gives us rhetorical question to make sure that this is what we want.

Lebih gampang diomongin daripada diimplementasikan ya? Betul betul. Saya sendiri juga masih mencoba sedikit demi sedikit menerapkannya supaya hati ini lebih plong dan tidak gusar. Ketika saya ingin mengambil suatu kesempatan baru di depan saya, saya mendengar si inner critic ini bilang “yakin ti? itu kan bukan kerjaan anak teknik banget. gak malu ama yang lain?”

Dan saya pun bilang ke dia “sirik yaaaaaaa”

Referensi dr sini dan sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s