Matah Ati

Tirai terbuka dan para penonton disajikan barisan rapi prajurit putri di atas panggung miring dengan tata cahaya yang dramatis. Saat itu saya merasa sangat tidak menyesal untuk membeli tiket Sendratari Matah Ati yang lumayan mahal buat kantong mahasiswa.

Pertama kali saya mendengar tentang Matah Ati adalah tahun lalu. Teman saya bercerita di grup facebook tentang pagelaran yang keren banget tetapi katanya mahal. Sudah, begitu saja yang saya tahu tentang pagelaran ini. Sekitar 1 bulan yang lalu saya mendengar bahwa sendratari ini akan diadakan lagi di Jakarta. Berita yang menyebar lewat media sosial memang cepat sekali ya sampainya hehehe.

Rencana menonton terkonkritkan bersama Gandrie, Agni, & Bow. Berbekal tiket kelas 3, kami datang kira kira 1 jam sebelumnya. Untungnya sama membawa binokular punya ibu karena kursi kami adalah yang paling atas dan kedua dari belakang hahaha. Berkat binokular tersebut, saya bisa melihat detil gerakan dan pakaian dari para pemain. Indah banget!

Matah Ati bercerita tentang seorang perempuan di Desa Matah dari Surakarta bernama Rubiyah yang memimpin pasukan prajurit wanita dalam peperangan melawan VOC. Rubiyah mendampingi Raden Mas Said selama peperangan hingga akhirnya menjadi istrinya dengan nama Matah Ati.

Kisah nyata tersebut dihadirkan melalui interpretasi visual yang menarik. Panggung miring, bukaan panggung secara hidrolik, tata cahaya, kain jawa yang dipakai. Wah indah sekali. Musik yang mengiringi lebih kontemporer, gamelan digabung dengan terompet. Para penari utama menyanyikan langsung syair dalam bahasa jawa yang merdu banget.

Dari segi cerita, sebenarnya ya Matah Ati gitu gitu aja. Tapi visual dan musiknya memang luar biasa dan bikin terkagum kagum. Mereka pertama tampil di Singapura, strategi yang pas buat orang Indonesia yang gampang dipanas panasin. Dan promosi yang menyeluruh lewat berbagai media, serta meminta public figure mempromosikan tampaknya ampuh. ‘Nonton matah ati’ menjadi suatu hal yang hip dan orang orang jadi tidak ingin melewatkan. Bagus deh jadi banyak yang nonton hasil karya anak bangsa dan cerita yang diambil dari akar sejarah bangsa sendiri.

Saya senang dapat kesempatan untuk nonton Matah Ati. Semoga sukses untuk pagelarannya di Solo 🙂

bersama pemeran Raden Mas Said & Rubiyah             (Foto: Hari Triwibowo)

bersama mbok mbok ‘SAHITA’ yg bikin ketawa       (Foto: Hari Triwibowo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s