Cita Cita dan Pekerjaan

Dulu cita cita saya mau jadi apa ya?

Gara gara kultwitnya masukitb dan membaca respon si anak anak SMA ini. Ada yang makin yakin jadi rajin belajar, ada yang galau karena mau ini mau itu, ada yang jadi jiper. Trus saya berpikir, kalau dulu waktu saya SMA sumber informasi sudah seperti ini, sekarang saya masih akan kuliah di Teknik Lingkungan gak ya? Atau mungkin saya akan udah keburu gak berani dulu untuk kuliah di ITB?

Dulu saya mau jadi apa sih?

Setelah melewati fase semua-orang-mau-jadi-dokter, tampaknya cita cita saya yang paling lama adalah untuk jadi penulis. Sejak puisi pertama saya yang judulnya “Telepon” (anjir itu lame banget lho), rasanya saya tidak pernah berhenti menulis. Buku harian, mading SMP, lomba puisi kawanku, karangan bahasa inggris, buku rohani, esai dengan berbagai topik, sampai blog ini.

Iya, dari dulu saya ingin jadi penulis.

Yah tapi juga namanya anak muda (gaya :p) masih labil, pemalas, pesimistis, dan ingin mengalir seperti air; saya bukan kuliah sastra atau jurnalistik. Dulu saya tidak melihat minat sebagai aset berharga dan cita cita sebagai suatu hal yang harus dikejar. Sama seperti anak anak SMA sekarang, yang dilihat itu prospek kerja. Dan pemikiran pemalas saya saat itu bilang “yaudah ikutin aja yang diarahin, ntar juga ketemu sendiri harusnya kemana”

Tapi yang namanya cinta itu gak bisa dibohongi kan?

Saya tidak pernah berhenti menulis. Baik itu cerita saya sendiri, cerita orang lain, yang kira kira disuka orang, serta mimpi mimpi khayal saya sendiri. Lalu saya kuliah. Bertemu suatu tempat luar biasa namanya radio. Saya siaran, didengar orang, saya senang. Saya menonton TV, terpana akan bagaimana opini bisa digerakkan secara massal. Lalu muncul suatu media yang dibatasi 140 karakter, twitter namanya. Dibatasi seperti itu pun suara saya masih terdengar.

Yang saya suka lebih dari menulis. Saya suka jadi perantara. Saya suka menyebarkan. Saya suka mencari. Saya suka didengarkan.

Saya tidak pernah bermimpi tinggi tapi tadi siang saya menerima sebuah email. Dia follower masukitb angkatan 2012 yang sempat kebingungan karena tidak mampu membayar uang masuk dan tidak tahu bahwa ada subsidi. Dia diterima namun tidak mampu bayar. Beberapa bulan lalu, saya (sebagai admin) memberi saran untuk menghubungi pihak rektorat, memberi nomer telepon dan alamat. Semua saya lakukan lewat email.

Di email yang saya terima tadi siang, dia menulis

Min, makasih ya. Saya bisa kuliah di ITB gratis

Saya, di bawah payung bernama media, bisa berguna untuk orang lain. Perasaan itu priceless banget, gak terbayarkan sama gaji berapa pun. Jadi terpikir kan, gila gimana kalo bisa berefek untuk lebih banyak orang lagi? Sedikit banyak beberapa bulan ini pola pikir saya akan ‘pekerjaan’ jadi makin berputar putar. Saya yakin semua pekerjaan pasti ada efeknya untuk orang lain. Tapi apakah kita memilih (atau menciptakan) pekerjaan itu sudah dengan mindset ‘untuk orang lain’?

Nanti saya kerja jadi apa ya?

Nanti saya kerja dimana ya?

Di usia 22 tahun ini saya jadi terpikirkan akan pertanyaan itu karena mau tak mau, sekarang pertanyaan saat saya SD muncul lagi di kepala saya. Cita cita saya mau jadi apa ya?

Advertisements

2 thoughts on “Cita Cita dan Pekerjaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s