Antologi Rasa yang Bernyawa

Saya mendengar nama Ika Natassa sudah cukup lama saat beberapa teman memperbincangkan novelnya yang berjudul ‘Divortiare’ dan akun twitter tokoh fiksi di novel tersebut, @alexandrarheaw. Beberapa kali saya juga melihat novel berjudul ‘a verry yuppy wedding’ di tumpukan buku Gramedia. Saat liburan lebaran di Solo kemarin, saya dan melati cukup bosan sehingga kami menghabiskan waktu kami di Gramedia. Yang menyenangkan dari Gramedia Solo adalah adanya buku yang dibuka plastiknya sehingga kami bisa menghabiskan waktu berjam jam dan menyelesaikan satu buah novel di sana. Hihi, maaf ya Gramedia dan penulis bukunyaaa. Jadi gak beli deh.

Novel yang saya selesaikan saat itu adalah ‘Divortiare’ dan sebagian ‘Twitvortiare,’ keduanya karya Ika Natassa. Maaf mbak ika, saya jadi gak beli novelnya (digetok penulis). Tapi hasil baca baca di Gramedia tersebut membuat saya penasaran untuk membaca karya Ika lainnya. Setelah follow akun twitter @ikanatassa, saya memutuskan untuk membeli ‘Antologi Rasa’

Kesan pertama untuk Antologi Rasa: urban banget sist!! Saya yang mahasiswa sederhana di kota Bandung sejenak berpikir, “orang dewasa yang kerja di Jakarta tuh hidupnya kaya gini ya?” Lunch ratusan ribu, gaji dibuang buang buat belanja trus masih berasa kurang, ngedate berapa kali trus bingung kenapa belum tidur bareng. Kalo ibu saya baca, bisa bisa anak gadisnya dipingit trus sekali pacaran disuruh nikah kali.

Despite all those bad habits from the characters, Antologi Rasa ingin mewakili perasaan kami kami ini yang cintanya tak terbalas pada sahabat sendiri. Novel ini seakan membela kami yang jatuh cinta terlalu lama dan terlalu dalam pada seseorang. Karakter karakternya mau berkata bahwa susah move on itu juga gakpapa.

Keara, Rully, dan Harris bercerita dengan cara mereka masing masing tentang orang yang mereka cintai, tentang betapa sakitnya melihat orang yang ada di hati mereka justru jatuh cinta head over heels pada orang lain, tentang bagaimana mereka tidak mau menyerah meskipun waktu terus berjalan. Tiga gaya bahasa berbeda disajikan oleh Ika Natassa sehingga para pembaca bisa memilih untuk ‘klik’ sama cerita yang mana.

Konflik klise A cinta B cinta C cinta D dibungkus dengan gaya bahasa ceplas ceplos dan dibubuhi deskripsi detail F1 Night Race, konser John Mayer, maupun suasana Bali. Personally, saya suka sudut pandang Harris, penakluk wanita yang jatuh cinta setengah mati dengan sahabatnya. Suka gak sih ngeliat bad boy yang gak berkutik di depan perempuan idamannya?

Cerita cinta yang bagus itu harus quoteable, dan itulah yang disajikan Antologi Rasa. Tentang ‘pick your happiness’ atau kutipan dari buku This is Water karya David Foster Wallace. Ika Natassa meletakkannya dengan pas sehingga pembaca bisa terdiam, mengela napas, lalu lanjut membaca. Antologi Rasa bisa menghadirkan cerita manusia urban jakarta dengan lebih bernyawa. Penokohan yang solid, dialog yang mengalir, dan ciri khas Ika dalam menulis menjadi kekuatannya.

Well, kalau memang mau baca novel bertokoh manusia urban Jakarta, baca Antologi Rasa pas kok. Don’t take it too serious dan nikmatin aja 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s