Terjebak Nostalgia di Wreck-It Ralph

null

Sekitar awal November, saya mendengar tentang film berjudul Wreck-It Ralph dari radio. Oh ternyata film kartun. Lalu dari kicauan beberapa teman di twitter, pujian tentang film ini pun terus berdatangan. Karena berbagai kesibukan, saya hanya sempat dengar sedikit reviewnya dari beberapa teman. Katanya film ini tentang bad guy di suatu game yang bosan jadi orang jahat dan masuk ke game lain.

Tadi pagi saya gak sengaja kepikiran, bioskop pasti lagi diinvasi si film vampir. Wreck-It Ralph masih ada gak ya? Kebetulan, kuliah saya hari ini ditiadakan dan saya punya spare time. Cek jadwal bioskop terdekat dan ternyata hanya ada 2 kali jam tayang untuk film ini. Segeralah saya pergi dan….menonton sendirian. Hehehehe.

Wreck-It Ralph bercerita tentang Ralph, si tokoh jahat dari game Fix-It Felix Jr. Game di sini adalah game dingdong yang biasa kita temukan di bioskop atau sejenis time zone. Nah tapi game Fix-It Felix ini sudah ada sejak 30 tahun lalu, jadi masih dapet kesan si 8-bit itu. Ralph yang bosan jadi orang jahat lalu pergi ke game lain untuk mendapatkan medali pahlawan tapi ujung ujungnya justru merusak juga. Hingga akhirnya ia bertemu Vanellope von Schweetz di game racing, Sugar Rush. Hubungan antar Ralph dan Vanellope, Ralph dengan Felix, maupun Felix dan Sergeant Calhoun dari game Hero’s Duty menjadi intrik dari film ini.

Ekspektasi saya tinggi dan saya tidak dikecewakan.

Wreck-It Ralph yang berdurasi 108 menit ini sangat menghibur. Untuk orang dewasa yang pernah mengenal Pac-Man, Street Fighter, atau Sonic pastinya merasakan keterikatan dengan film ini dan nuansa video game-nya. Bagi adik adik kita yang masih kecil, latar game Sugar Rush yang penuh dengan gula gula, cokelat, es krim serta segala yang manis manis akan membawa momen “kyaaa kyaa” tersendiri. Film ini bisa dinikmati oleh berbagai kalangan, itu pasti.

Seperti biasa, film dengan target anak anak pasti sarat akan pesan moral. Jadi diri sendiri, persahabatan, keinginan kuat untuk mencapai cita cita, dan masih banyak lagi. Satu lagi yang saya suka adalah pemilihan pengisi suara. I recognized Sarah Silverman as Vanellope and Jane Lynch as Sergeant Calhoun. Lynch pas sekali rasanya mewujudkan kesan perempuan tough yang ngomongnya ceplas ceplos tapi sebenarnya menyimpan kenangan buruk. Mirip perannya sebagai Sue di Glee.

Well, saya cukup senang karena memilih film ini daripada Skyfall atau Breaking Dawn part 2. Gak sabar untuk memasuki bulan Desember karena film film Indonesia bagus sudah menanti untuk ditonton. Yeay!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s