are your dreams big enough?

dream

Seringkali, saya merasa bahwa kata “berani” bukanlah kata yang menggambarkan diri saya.

Takut mungkin tidak serta merta keluar dari mulut saya, tapi gejala gejalanya selalu muncul. Suhu tubuh meningkat, perut yang sakit, dan berbagai gejala lainnya. Saya mungkin terlihat tanpa ragu saat mengambil keputusan atau mencoba hal baru padahal entah seberapa besar ketakutan saya saat itu. Konyolnya pula, kadang saya menangis dengan alasan takut.

Salah satu ketakutan terbesar saya adalah dulu saat menjelang opening Olimpiade VI KM ITB 2012. Bayangan bahwa acara tersebut akan disaksikan banyak massa kampus, dengan segala ketidakpastian yang ada saat itu, dan kelelahan akibat padatnya aktivitas saat itu; membuat saya takut melangkah. Sore itu, sebelum saya harus memimpin rapat, akhirnya saya menelpon ibu saya dan menangis. Lama sekali, hingga cerita saya pun tinggal tersisa racauan tidak jelas tentang bagaimana saya ragu dan tidak yakin bisa menjalankan semuanya. Ibu hanya bilang bahwa ketakutan saya itu wajar. Yang jelas adalah ketakutan itu tidak boleh membuat saya berhenti.

Hingga saat ini, masa masa dimana saya dikejar untuk menyelesaikan tugas akhir, ketakutan itu tidak pernah berhenti untuk datang. Bagaimana jika dosen penguji nanti gak setuju dengan analisis saya? Bagaimana jika saya tidak bisa menjawab pertanyaan pertanyaan mereka? Dan bagaimana bagaimana lainnya selalu muncul selagi saya mengetik draft tugas akhir.

Dan juga ketika akan memasuki 2013. Tahun depan akan sangat berbeda karena saya secara resmi akan meninggalkan dunia perkuliahan yang ternyata sudah menjadi zona yang sangat nyaman ini. Melihat beberapa teman yang sudah lulus terlebih dahulu, dunia setelah kuliah terlihat lebih menantang, tapi ada juga yang penuh keluhan dan kebosanan. Ujian yang dihadapi bukan lagi duduk dua jam disertai soal soal dan kalkulator, tapi menceritakan tentang diri sendiri dan rencana hidup pada seorang asing yang mewawancarai kita. Uwow.

Pernah suatu ketika saya berpikir, kenapa saya gak hidup tenang dan damai saja? Gak usah jadi yang aneh aneh, gak perlu coba yang macam macam, yang penting bebas dari rasa takut.

Setelah itu, rasanya jadi ingin menampar diri sendiri.

Apa artinya hidup jika melarang diri sendiri untuk mencoba hal baru, mengambil keputusan besar, mewujudkan impian? Apa artinya hidup bila alasan untuk tidak melakukan suatu hal adalah karena takut? Apa artinya hidup bila takut untuk bermimpi?

Seperti yang tertulis pada gambar di atas: if your dreams don’t scare you, they aren’t big enough.

Saat ini mimpi saya mungkin sedekat mendapatkan gelar sarjana teknik dalam beberapa minggu. Namun untuk lebih jauh, setumpuk mimpi menunggu untuk diwujudkan. Saya belajar bahwa takut itu tidak dilarang. Ketakutan adalah salah satu bukti bahwa kita manusia, bahwa kita masih bisa merasa. Yang dilarang adalah ketika ketakutan menghalangi jalan kita.

Ya, sekarang saya masih takut saat melihat kalender dan menghitung hari hingga tiba tanggalnya sidang. Ya, rasa deg degan dan butterfly in my stomach masih akan muncul pas mau apply dan interview kerja. Tetapi hal hal itu tidak lagi boleh menjadi hambatan dalam menjalani mimpi mimpi saya.

Dan terakhir, saya mengutip salah satu tweet teman saya beberapa waktu lalu:

True bravery can happen only in the face of fear – if you aren’t afraid, then how can your actions be brave?

Advertisements

4 thoughts on “are your dreams big enough?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s