new year’s gift: me singing a song

Well, this is my first post in 2013, so HAPPY NEW YEAR!!

As a gift, I’d love to share this song to you.

Kaya G Enam – Aldee & Tiara

It is cover from Far East Movement’s Like A G6. Actually, this song was recorded back on April 2012. My friend, Aldi Ramadhika, is so creative and has a big passion in music. So, in between his works, he still manage to record and edit songs. Aldi asked me to sing the chorus, and I said yes because this is a rare opportunity. Hahaha. I’m not a singer and I don’t have great voice so I can’t see myself doing something like this again in the future. Hahaha.

Although, Aldi asked me to sound a little bit sexy and the lyrics itself represent a bad habit, trust me; I’m a good girl. Hahaha. I don’t even know how someone can be “melayang kaya G enam”

Here it is, the link to download the song: http://www.mediafire.com/?gh3v5p9u83p331r

I hope you enjoy my first (and only one) recorded singing experience.

Rise of The Guardians: light up your imagination

null

Saya dulu termasuk cepat sekali sadar bahwa Sinterklas itu gak nyata. Sewaktu mau foto bareng, saya lihat kenapa Sinterklas-nya gak putih kan harusnya dari kutub. Sesimpel itu, dan gak sedih juga kaya di film film barat. Waktu gigi copot juga lebih percaya untuk dilempar ke genteng daripada ditaro di bawah bantal dan nunggu peri gigi. Sewaktu paskah juga saya tahu kalau yang nyembunyiin semua telur itu ya guru guru saya.

Mungkin itu yang menjadi alasan kenapa saya merasa iri saat menonton Rise of The Guardians. I wish I were a little girl living in western country.

Anyway, I still enjoyed the movie. It is a children movie but grown up like me and my friends can be moved too.

Rise of The Guardians dibuka dengan narasi dari Jack Frost. Bagaimana bulan berbicara padanya tapi tidak menjelaskan apa perannya di dunia. Dia tidak paham mengapa manusia tidak bisa melihatnya. Yang dia tahu adalah dia bisa membekukan benda, memunculkan salju,dan membuat udara dingin. Dan begitu terus sampai ratusan tahun. Hingga suatu hari tokoh antagonis bernama Pitch muncul untuk membawa ketakutan pada anak anak.

Guardians yang terdiri dari North si Sinterklas, Tooth Fairy, Easter Bunny, dan juga Sandman si pembawa mimpi indah, kalang kabut akan kedatangan Pitch. Bulan pun memberi tanda bahwa mereka butuh guardian baru, Jack Frost. Jack yang terkesan bandel memang jauh dari image guardian. Tetapi dengan misi tersendiri, Jack akhirnya mau membantu para guardians untuk menyelamatkan kepercayaan anak anak akan tokoh tokoh impian mereka ini.

Beberapa adegan memang terasa menyentuh di saat yang lain lucu. Interaksi antara Jack Frost dan seorang anak kecil berimajinasi tinggi bernama Jamie cukup mengharukan. Makhluk kecil dan yeti peliharaan Sinterklas lucu banget. Animasi salju dan pasir dari Sandman juga indah.

Film ini ingin mengajak kita untuk kembali berani berimajinasi. Di saat hidup sudah terlalu sering diliputi kegelapan (perang, kebencian, sakit hati, kekhawatiran), it feels good to have a wild imagination. Ketika sudah semakin sedikit hal yang bisa dipercaya di dunia ini, ada baiknya percaya pada keajaiban keajaiban kecil which lights our heart again.

It is a great movie to watch with your niece/nephew. Let them have a wild imagination while you’re smiling inside your heart.

life of pi

 

indah dari segi visual, akting, musik, dan juga filosofinya.

sebuah novel yang awalnya dikatakan “tidak mungkin bisa difilmkan” hadir dengan begitu apik dan memukau

di balik sinematika-nya, film ini juga memberikan pertanyaan bagi masing masing dari kita.

juga ruang bagi para penontonnya untuk menumbuhkan keraguan

WAJIB BANGET DITONTON

Terjebak Nostalgia di Wreck-It Ralph

null

Sekitar awal November, saya mendengar tentang film berjudul Wreck-It Ralph dari radio. Oh ternyata film kartun. Lalu dari kicauan beberapa teman di twitter, pujian tentang film ini pun terus berdatangan. Karena berbagai kesibukan, saya hanya sempat dengar sedikit reviewnya dari beberapa teman. Katanya film ini tentang bad guy di suatu game yang bosan jadi orang jahat dan masuk ke game lain.

Tadi pagi saya gak sengaja kepikiran, bioskop pasti lagi diinvasi si film vampir. Wreck-It Ralph masih ada gak ya? Kebetulan, kuliah saya hari ini ditiadakan dan saya punya spare time. Cek jadwal bioskop terdekat dan ternyata hanya ada 2 kali jam tayang untuk film ini. Segeralah saya pergi dan….menonton sendirian. Hehehehe.

Wreck-It Ralph bercerita tentang Ralph, si tokoh jahat dari game Fix-It Felix Jr. Game di sini adalah game dingdong yang biasa kita temukan di bioskop atau sejenis time zone. Nah tapi game Fix-It Felix ini sudah ada sejak 30 tahun lalu, jadi masih dapet kesan si 8-bit itu. Ralph yang bosan jadi orang jahat lalu pergi ke game lain untuk mendapatkan medali pahlawan tapi ujung ujungnya justru merusak juga. Hingga akhirnya ia bertemu Vanellope von Schweetz di game racing, Sugar Rush. Hubungan antar Ralph dan Vanellope, Ralph dengan Felix, maupun Felix dan Sergeant Calhoun dari game Hero’s Duty menjadi intrik dari film ini.

Ekspektasi saya tinggi dan saya tidak dikecewakan.

Wreck-It Ralph yang berdurasi 108 menit ini sangat menghibur. Untuk orang dewasa yang pernah mengenal Pac-Man, Street Fighter, atau Sonic pastinya merasakan keterikatan dengan film ini dan nuansa video game-nya. Bagi adik adik kita yang masih kecil, latar game Sugar Rush yang penuh dengan gula gula, cokelat, es krim serta segala yang manis manis akan membawa momen “kyaaa kyaa” tersendiri. Film ini bisa dinikmati oleh berbagai kalangan, itu pasti.

Seperti biasa, film dengan target anak anak pasti sarat akan pesan moral. Jadi diri sendiri, persahabatan, keinginan kuat untuk mencapai cita cita, dan masih banyak lagi. Satu lagi yang saya suka adalah pemilihan pengisi suara. I recognized Sarah Silverman as Vanellope and Jane Lynch as Sergeant Calhoun. Lynch pas sekali rasanya mewujudkan kesan perempuan tough yang ngomongnya ceplas ceplos tapi sebenarnya menyimpan kenangan buruk. Mirip perannya sebagai Sue di Glee.

Well, saya cukup senang karena memilih film ini daripada Skyfall atau Breaking Dawn part 2. Gak sabar untuk memasuki bulan Desember karena film film Indonesia bagus sudah menanti untuk ditonton. Yeay!

No matter how rich or famous or successful I become…

Don’t you get it?

No matter how rich or famous or successful I become

When it comes to you, I’m always gonna be that moon-eyed girl who freaked you out at our first glee rehearsal

You were the first boy that made me feel loved and sexy and visible.

You are my first love,

and I want, more than anything, for you to be my last.

But I can’t do this anymore

At least, not now.

We’re done

Rachel Berry in Glee S04E04 – The Break Up

Antologi Rasa yang Bernyawa

Saya mendengar nama Ika Natassa sudah cukup lama saat beberapa teman memperbincangkan novelnya yang berjudul ‘Divortiare’ dan akun twitter tokoh fiksi di novel tersebut, @alexandrarheaw. Beberapa kali saya juga melihat novel berjudul ‘a verry yuppy wedding’ di tumpukan buku Gramedia. Saat liburan lebaran di Solo kemarin, saya dan melati cukup bosan sehingga kami menghabiskan waktu kami di Gramedia. Yang menyenangkan dari Gramedia Solo adalah adanya buku yang dibuka plastiknya sehingga kami bisa menghabiskan waktu berjam jam dan menyelesaikan satu buah novel di sana. Hihi, maaf ya Gramedia dan penulis bukunyaaa. Jadi gak beli deh.

Novel yang saya selesaikan saat itu adalah ‘Divortiare’ dan sebagian ‘Twitvortiare,’ keduanya karya Ika Natassa. Maaf mbak ika, saya jadi gak beli novelnya (digetok penulis). Tapi hasil baca baca di Gramedia tersebut membuat saya penasaran untuk membaca karya Ika lainnya. Setelah follow akun twitter @ikanatassa, saya memutuskan untuk membeli ‘Antologi Rasa’

Kesan pertama untuk Antologi Rasa: urban banget sist!! Saya yang mahasiswa sederhana di kota Bandung sejenak berpikir, “orang dewasa yang kerja di Jakarta tuh hidupnya kaya gini ya?” Lunch ratusan ribu, gaji dibuang buang buat belanja trus masih berasa kurang, ngedate berapa kali trus bingung kenapa belum tidur bareng. Kalo ibu saya baca, bisa bisa anak gadisnya dipingit trus sekali pacaran disuruh nikah kali.

Despite all those bad habits from the characters, Antologi Rasa ingin mewakili perasaan kami kami ini yang cintanya tak terbalas pada sahabat sendiri. Novel ini seakan membela kami yang jatuh cinta terlalu lama dan terlalu dalam pada seseorang. Karakter karakternya mau berkata bahwa susah move on itu juga gakpapa.

Keara, Rully, dan Harris bercerita dengan cara mereka masing masing tentang orang yang mereka cintai, tentang betapa sakitnya melihat orang yang ada di hati mereka justru jatuh cinta head over heels pada orang lain, tentang bagaimana mereka tidak mau menyerah meskipun waktu terus berjalan. Tiga gaya bahasa berbeda disajikan oleh Ika Natassa sehingga para pembaca bisa memilih untuk ‘klik’ sama cerita yang mana.

Konflik klise A cinta B cinta C cinta D dibungkus dengan gaya bahasa ceplas ceplos dan dibubuhi deskripsi detail F1 Night Race, konser John Mayer, maupun suasana Bali. Personally, saya suka sudut pandang Harris, penakluk wanita yang jatuh cinta setengah mati dengan sahabatnya. Suka gak sih ngeliat bad boy yang gak berkutik di depan perempuan idamannya?

Cerita cinta yang bagus itu harus quoteable, dan itulah yang disajikan Antologi Rasa. Tentang ‘pick your happiness’ atau kutipan dari buku This is Water karya David Foster Wallace. Ika Natassa meletakkannya dengan pas sehingga pembaca bisa terdiam, mengela napas, lalu lanjut membaca. Antologi Rasa bisa menghadirkan cerita manusia urban jakarta dengan lebih bernyawa. Penokohan yang solid, dialog yang mengalir, dan ciri khas Ika dalam menulis menjadi kekuatannya.

Well, kalau memang mau baca novel bertokoh manusia urban Jakarta, baca Antologi Rasa pas kok. Don’t take it too serious dan nikmatin aja 🙂

Matah Ati

Tirai terbuka dan para penonton disajikan barisan rapi prajurit putri di atas panggung miring dengan tata cahaya yang dramatis. Saat itu saya merasa sangat tidak menyesal untuk membeli tiket Sendratari Matah Ati yang lumayan mahal buat kantong mahasiswa.

Pertama kali saya mendengar tentang Matah Ati adalah tahun lalu. Teman saya bercerita di grup facebook tentang pagelaran yang keren banget tetapi katanya mahal. Sudah, begitu saja yang saya tahu tentang pagelaran ini. Sekitar 1 bulan yang lalu saya mendengar bahwa sendratari ini akan diadakan lagi di Jakarta. Berita yang menyebar lewat media sosial memang cepat sekali ya sampainya hehehe.

Rencana menonton terkonkritkan bersama Gandrie, Agni, & Bow. Berbekal tiket kelas 3, kami datang kira kira 1 jam sebelumnya. Untungnya sama membawa binokular punya ibu karena kursi kami adalah yang paling atas dan kedua dari belakang hahaha. Berkat binokular tersebut, saya bisa melihat detil gerakan dan pakaian dari para pemain. Indah banget!

Matah Ati bercerita tentang seorang perempuan di Desa Matah dari Surakarta bernama Rubiyah yang memimpin pasukan prajurit wanita dalam peperangan melawan VOC. Rubiyah mendampingi Raden Mas Said selama peperangan hingga akhirnya menjadi istrinya dengan nama Matah Ati.

Kisah nyata tersebut dihadirkan melalui interpretasi visual yang menarik. Panggung miring, bukaan panggung secara hidrolik, tata cahaya, kain jawa yang dipakai. Wah indah sekali. Musik yang mengiringi lebih kontemporer, gamelan digabung dengan terompet. Para penari utama menyanyikan langsung syair dalam bahasa jawa yang merdu banget.

Dari segi cerita, sebenarnya ya Matah Ati gitu gitu aja. Tapi visual dan musiknya memang luar biasa dan bikin terkagum kagum. Mereka pertama tampil di Singapura, strategi yang pas buat orang Indonesia yang gampang dipanas panasin. Dan promosi yang menyeluruh lewat berbagai media, serta meminta public figure mempromosikan tampaknya ampuh. ‘Nonton matah ati’ menjadi suatu hal yang hip dan orang orang jadi tidak ingin melewatkan. Bagus deh jadi banyak yang nonton hasil karya anak bangsa dan cerita yang diambil dari akar sejarah bangsa sendiri.

Saya senang dapat kesempatan untuk nonton Matah Ati. Semoga sukses untuk pagelarannya di Solo 🙂

bersama pemeran Raden Mas Said & Rubiyah             (Foto: Hari Triwibowo)

bersama mbok mbok ‘SAHITA’ yg bikin ketawa       (Foto: Hari Triwibowo)