menganalogikan

null

Picture from here

 

Analoginya seperti ini.

Pertama kali kamu melihat seorang pilot dan ada sesuatu pada figur itu yang menarik perhatianmu. Entah apa, tapi sejak detik itu, salah satu impianmu adalah menjadi pilot. Terbang menembus awan, melihat pemandangan dari ketinggian, semuanya! Beranjak dewasa, kamu memiliki impian lain, yang lebih besar dan lebih menarik, tapi menjadi pilot tetap adalah sesuatu yang selalu kamu dambakan.

Lalu kamu tahu bahwa salah satu syarat untuk menjadi pilot adalah tidak boleh buta warna. Kamu tahu ada sesuatu yang berbeda pada dirimu tapi kamu tidak pernah tahu bahwa itu akan menjadi masalah. Sekian tahun kamu masih menyimpan impian itu dalam hati, tidak secara terang terangan lagi karena jauh di dalam hatimu, kamu tahu bahwa kemungkinannya kecil. Tapi, tidak ada yang salah untuk bermimpi bukan?

Teman temanmu berkata, tinggalkan impian itu. Carilah impian baru. Carilah yang memang sesuai untuk dirimu, bukan yang tidak bisa kamu raih.

Dan tetap dalam diam, kamu masih menyisipkan mimpi itu dalam doa.

Hingga surat resmi itu keluar. Surat resmi yang menyatakan keadaanmu, yang bertolak belakang dengan ketentuan untuk menjadi pilot. Impianmu sejak kecil, imajinasi di siang bolong, hal kecil yang membuatmu tersenyum saat membayangkannya, kata kata singkat yang terselip di setiap doamu; semuanya dihapuskan dengan kata kata: tidak mungkin.

Kamu pernah berjanji bahwa akan menyerah ketika ada kata kata resmi itu. Dan sekarang sudah ada. Tidak ada alasan lagi untuk berjuang.

Itu analoginya.

That’s how I feel about you now.

this is a bribe

One more month.

One more month and you’ll be free, tiara.

I’m not in the mood to talk about my final project, but I’m excited to talk about the rewards after I finish it. This isn’t rewards from my relatives, this is from me to myself. After all, the bribery process is part of the planning process, right?

To be honest, I’m not used to any kind of rewards. But I need more motivation other than “get a title” to finish this thing so I try to make some “bribes” for my own sake. It’s not a tangible one. Well, if you asked me, it’s more like a resolution hahaha. Never mind, I think the time to do these kind of things is what make it precious.

***

write a book or two. Writing is my passion but that will be a total bullshit if I don’t make a real one for once at least. I don’t care if it will be published or not, but finishing my own book will be an accomplishment. Publishing it is a dream come true.

learn how to drive. I postponed this plan since two years ago. Erghh. I have too many excuse before. A girl (or in this case, woman) in my age and can’t drive a car? It’s a shame.

buying a domain for this dearest blog. I have been having this thought for a long time but too lazy to execute it. tiarakami.com is coming soon (hopefully).

apply for my dream job. I still considering those as ‘dream’ jobs, actually. Be a reporter to a TV news, be a part of big multinational media group, get to know more about radio industry, write for a newspaper, learn more how to manage social media. I used to hold my willingness to apply because I haven’t graduated yet. I found suitable job for me but I can’t apply. I get accepted at one of my dream job and had to let it go.

travel abroad. My best friend and I have this plan to go to Vietnam next year. Still, I don’t know if it will be real or it’s just another ‘wacana’ (khas anak ITB). I get jealous by reading my friend’s travel story and I can’t wait to write my own. I get bored by experience Jakarta-Bandung only. In case I can’t get my budget, I still want to travel to another cities in Indonesia.

***

That’s all.

What I have in my mind is “finish your final project, and you will get all of the time to do those things.”

Rise of The Guardians: light up your imagination

null

Saya dulu termasuk cepat sekali sadar bahwa Sinterklas itu gak nyata. Sewaktu mau foto bareng, saya lihat kenapa Sinterklas-nya gak putih kan harusnya dari kutub. Sesimpel itu, dan gak sedih juga kaya di film film barat. Waktu gigi copot juga lebih percaya untuk dilempar ke genteng daripada ditaro di bawah bantal dan nunggu peri gigi. Sewaktu paskah juga saya tahu kalau yang nyembunyiin semua telur itu ya guru guru saya.

Mungkin itu yang menjadi alasan kenapa saya merasa iri saat menonton Rise of The Guardians. I wish I were a little girl living in western country.

Anyway, I still enjoyed the movie. It is a children movie but grown up like me and my friends can be moved too.

Rise of The Guardians dibuka dengan narasi dari Jack Frost. Bagaimana bulan berbicara padanya tapi tidak menjelaskan apa perannya di dunia. Dia tidak paham mengapa manusia tidak bisa melihatnya. Yang dia tahu adalah dia bisa membekukan benda, memunculkan salju,dan membuat udara dingin. Dan begitu terus sampai ratusan tahun. Hingga suatu hari tokoh antagonis bernama Pitch muncul untuk membawa ketakutan pada anak anak.

Guardians yang terdiri dari North si Sinterklas, Tooth Fairy, Easter Bunny, dan juga Sandman si pembawa mimpi indah, kalang kabut akan kedatangan Pitch. Bulan pun memberi tanda bahwa mereka butuh guardian baru, Jack Frost. Jack yang terkesan bandel memang jauh dari image guardian. Tetapi dengan misi tersendiri, Jack akhirnya mau membantu para guardians untuk menyelamatkan kepercayaan anak anak akan tokoh tokoh impian mereka ini.

Beberapa adegan memang terasa menyentuh di saat yang lain lucu. Interaksi antara Jack Frost dan seorang anak kecil berimajinasi tinggi bernama Jamie cukup mengharukan. Makhluk kecil dan yeti peliharaan Sinterklas lucu banget. Animasi salju dan pasir dari Sandman juga indah.

Film ini ingin mengajak kita untuk kembali berani berimajinasi. Di saat hidup sudah terlalu sering diliputi kegelapan (perang, kebencian, sakit hati, kekhawatiran), it feels good to have a wild imagination. Ketika sudah semakin sedikit hal yang bisa dipercaya di dunia ini, ada baiknya percaya pada keajaiban keajaiban kecil which lights our heart again.

It is a great movie to watch with your niece/nephew. Let them have a wild imagination while you’re smiling inside your heart.

life of pi

 

indah dari segi visual, akting, musik, dan juga filosofinya.

sebuah novel yang awalnya dikatakan “tidak mungkin bisa difilmkan” hadir dengan begitu apik dan memukau

di balik sinematika-nya, film ini juga memberikan pertanyaan bagi masing masing dari kita.

juga ruang bagi para penontonnya untuk menumbuhkan keraguan

WAJIB BANGET DITONTON

terucap selamat untuk malam

selamat malam untuk kamu yang semu

selamat malam untuk insan kesepian yang menatap langit langit saat tidur, untuk melupakan fakta bahwa tak ada siapapun di sampingnya bilamana terpekur

selamat malam untuk telinga yang pengang, setelah terus menerus mendengar hiruk pikuk keriuhan dunia yang tak lagi lengang

selamat malam untuk bibir yang berulang kali mencoba untuk bilang cinta, tapi tetap terkatup karena lebih baik jadi buta

selamat malam untuk mata yang lelah meneteskan air untuk satu orang yang tak berharga, hanya untuk tahu bahwa dirinya pun tak terlihat juga

selamat malam untuk hati yang meraung, berharap manusia di sekitarnya sadar bahwa ada gaung

selamat malam untuk otak yang tak lagi terpakai, akibat entah sejak kapan sejak terakhir dirinya dibelai

selamat malam untuk dia yang tak menoleh ke belakang, padahal jelas jelas ada yang sayang

selamat malam untuk saya.

 

keraguan dalam cinta

“relationship is built. cinta itu gak muncul begitu saja. dalam relationship pasti akan muncul banyak keraguan. kalau ada cinta, keraguan itu satu demi satu akan dimaklumi ataupun ditemukan solusinya”

hasil diskusi dengan seorang sahabat

kata diandra dalam hati

Belasan tahun Diandra mengenal pria yang berdiri di hadapannya saat ini dan belum pernah sekalipun ia melihat pancaran mata itu. Apa artinya?

Takut? Diandra meragukannya, mengingat dia selalu tanpa ragu saat mengarungi jeram di berbagai sungai berbahaya.

Tegang? Diandra bersamanya beberapa menit sebelum ujian sarjananya dan tidak ada raut tegang sedikit pun saat itu.

Marah? Bukan, ini bukan wajahnya yang Diandra lihat setelah ia ditipu habis habisan oleh rekan bisnisnya beberapa tahun lalu.

Diandra hafal berbagai ekspresi wajah pria ini. Bukan hanya ekspresi wajah, Diandra hafal segala hal tentang dia. Hmm, sebentar. Diandra pernah melihat situasi ini.

Saat Diandra datang ke prom dengan idolanya sejak masuk SMA, saat Diandra asik skype dengan idola SMA-nya itu karena si idola kuliah di luar negeri, saat Diandra berkenalan dengan dokter sukses setelah lama patah hati akibat idola SMA-nya, saat Diandra dan si dokter sukses balikan lagi.

Saat Diandra akhirnya bertemu dengan pasangan hatinya dan tak berhenti bercerita tentangnya.

Ekspresi wajah itulah yang juga muncul saat ini, ketika Diandra memperlihatkan cincin pertunangan yang ia dapat beberapa jam sebelumnya.

Dicintai tidak pernah sesakit ini, kata Diandra dalam hati.