“Cinta bisa datang kapan saja…”

Delapan tahun itu terasa hanya sekejap mata ya. Setidaknya itu yang saya rasakan setelah menonton arisan!2, sekuel dari Arisan! yang ditayangkan pada tahun 2003. Kalau dibayangin, dulu saya nonton film pertamanya waktu masih SMP padahal filmnya tipe tipe dewasa gitu. Hehehehe jangan ditiru ya adik adik.

Saya tidak akan mengupas tuntas film arisan!2 di posting ini. Hanya saja tadi saya menemukan video clip dari OST kedua film ini di youtube. Ya, OST-nya lagu yang sama namun dinyanyikan oleh 2 orang yang berbeda dan dengan style yang sangat berbeda pula.

Menurut saya, cocok sih aransemen barunya Cinta Terlarang untuk sekuelnya film ini. Dan lebih cocok lagi pemilihan Rio Dewanto untuk membawakan lagu ini. Pejamkan mata dan semoga yang ada di pikiran anda bukan versi gay-nya. HA!

Advertisements

Harry Potter vs Pajak

Siapa yang akan menang ya kira kira?

Sejak kehebohan dicabutnya ijin importir film yang menunggak pajak, masyarakat pecinta film di Indonesia tidak pernah henti hentinya bersuara agar film Hollywood kembali masuk ke Indonesia. Absennya Black Swan, Kungfu Panda, X-Men, hingga Transformers 3 memang membuat ada yang kurang di keseharian sebagian orang. Puncaknya adalah ketika mereka hanya bisa gigit jari melihat negara negara lain jatuh dalam fenomena Harry Potter saat sekuel terakhir dari film tersebut dirilis.

Sebagian masyarakat di Indonesia memutuskan untuk berangkat ke negara tetangga demi bisa menonton Harry Potter, sebagian lagi men-trending topic hashtag #IndonesiaWantsHarryPotter, sebagian lagi cuek dengan anggapan bisa cari bajakan atau download saja. Angin segar terasa ketika @21Cineplex memberikan statement menyambut film film Hollywood tersebut untuk masuk ke Indonesia. Official website mereka pun telah menampilkan poster poster film Hollywood tersebut di halaman ‘Coming Soon’

Ketika mendapat berita terebut, yang menggelitik saya bukan fakta bahwa Harry Potter akan segera tayang, namun pertanyaan “emang masalah pajaknya udah selesai?” Awalnya saya memang tidak begitu mengikuti perkembangan kasusnya. Setahu saya, Dirjen Pajak sempat mengeluarkan peraturan baru soal pajak tanpa menghapuskan utang pajak importir importir sebelumnya. Lalu Menbudpar, Jero Wacik, pernah mengumumkan bahwa film Hollywood akan segera masuk ke Indonesia namun dibantah oleh Menteri Keuangan.

Lalu saya mencoba membaca beberapa artikel tentang masalah ini dan sedikit banyak saya mulai paham keadaan saat ini.

Beberapa importir yang masih menunggak pajak berada di dalam 1 grup, yaitu grup 21Cineplex. Ketika peraturan baru tentang pajak film dikeluarkan, MPAA yang merupakan distributor film film Hollywood merasa tidak cocok dengan peraturan tersebut. Namun kini muncul importir baru yang bernama Omega Film. Kabarnya MPAA sudah memiliki persetujuan dengan Omega Film dan dalam 2 hari ini film film Hollywood dapat masuk ke Indonesia dan dilanjutkan ke LSF sebelum dapat disaksikan oleh masyarakat.

Pertanyaannya adalah, siapakah Omega Film?

Omega Film diduga masih dibayang bayangi oleh orang orang lama dari grup 21Cineplex. Sebelunya Omega Film sempat diblokir selama 2 minggu karena diduga memiliki afiliasi dengan 21Cineplex yang masih juga belum membayar pajak. Namun dengan campur tangan Kemenbudpar, blokir tersebut dicabut sehingga 21Cineplex bisa menampilkan judul judul film box office Hollywood di halaman Coming Soon mereka.

Kabar ini tentunya disambut dengan suka ria oleh mereka yang nafsu menonton Harry Potter-nya tak tertahankan lagi. Tapi apakah ini solusi untuk masalah perpajakan film impor? Tidak.

Dugaan monopoli oleh grup 21Cineplex sudah ada sejak lama, namun tidak ada yang berhasil membuktikan. Sekarang, ketika importir importir di bawah 21Cineplex tercegat pajak, yang mereka lakukan adalah membentuk importir baru. Sulit? Tentu tidak. Ketika orang orang lama lagi yang bermain, urusan ke MPAA dan urusan urusan ‘belakang’ pun menjadi mudah. Sudah pasti film Hollywood tersebut bisa dengan cepat didapatkan.

Ketika masyarakat sudah bisa menikmati lagi film film Hollywood, siapa lagi yang akan ingat dengan tumpukan pajak bernilai miliaran rupiah yang masih belum dibayarkan? Tebakan saya, nantinya akan hilang juga dihembus berita berita lain yang lebih sensasional. Strategi yang bagus sebenarnya dari grup 21Cineplex. Desakan masyarakat dijadikan pembenaran, sehingga mereka memunculkan solusi berupa Omega Film. Solusi yang hanya menambah masalah.

Tulisan ini saya buat berdasarkan pemberitaan media yang ditambah dengan opini saya. Bisa jadi saya termakan pemberitaan. Tapi bisa jadi ini benar dan media berusaha untuk menguaknya. Saya sih berharap mereka yang mengerti tentang masalah perpajakan maupun film mau membahas masalah ini agar masyarakat terbuka pikirannya.

Saya tidak ingin Harry Potter menang akan pajak.

Saya tidak ingin masyarakat dibutakan dengan konsumerisme akan film Hollywood ketika negaranya sendiri dirugikan.

 

Review : Catatan Harian Si Boy

null

Setelah lama sekali tidak menonton bioskop (salahkan importir film!), akhirnya saya kembali mengeluarkan uang untuk menonton film yang satu ini. Berbagai pujian di social media membuat saya penasaran akan film Catatan Harian Si Boy (CHSB). Saya belum pernah menonton Catatan Si Boy yang ngetop banget di tahun 80an. Tapi dengar dengar sih, ini bukan sekuel maupun remake dari film tersebut, jadi gakpapa kalau tidak tahu film aslinya.

Film berdurasi kurang lebih 1 jam 40 menit ini menghibur! Karakter karakternya lovable, dialognya menarik dan ngena, adegannya juga gak terlalu cepat atau lambat jadi bisa dinikmati. Untuk ukuran film pertama seorang sutradara, film ini sangat sukses menjadi hiburan di tengah keringnya film lokal bermutu di bioskop.

Sang sutradara cukup pintar untuk mengambil nama ‘Boy’ namun menggunakan dialog dan kehidupan anak muda sekarang sehingga ia bisa mengambil pasar orang orang tua yang rindu masa muda ataupun anak muda yang dipenuhi rasa penasaran akan film jaman dulu. Katanya sih (karena saya gak nonton Catatan Si Boy tahun 80an), tokoh tokoh di CHSB ini lumayan disamakan karakternya dengan CSB. Satrio, Tasha, Nina, Andi, dan Herry bagaikan jelmaan Boy dan kawan kawan di era 80an.

Satrio yang diperankan Ario Bayu sudah pasti menarik perhatian (terutama bagi kaum hawa). Pribumi ganteng dekil cuek bad boy senyum manis aheeeeyyy. Hahahaha. Namun akting Andi, Herry, dan Nina sebagai sahabat Satrio cukup menonjol dan bisa memunculkan tawa dari dialog dialog mereka. Ya, gabungan antara dialog yang cerdas dan akting yang natural memberikan sentuhan sentuhan kecil namun memorable. Adegan Andi menirukan Satrio saat menyuruh Herry memungut uang di lantai tampaknya tak akan pernah bosan walaupun diulang ulang. Lucu banget!

Saya paling males spoiler, jadinya saya tidak akan menceritakan detail jalan ceritanya disini. Yang pasti film ini cocok buat ditonton rame rame sama sahabat. Ketawanya dapet!