“I love you” without a question mark

I love you.

Is that a statement, or a question?

Does that always come with a long pause, waiting for an answer?

****

Mine doesn’t.

I told her how I fell in love with her in the first place just minutes before her plane took off. I just blurted. Those words came out of my heart, while I knew that her boyfriend was waiting for her.

I gave her no pause, no time to express her shock, no chance to say anything.

I didn’t want an answer because I knew from the beginning that she wouldn’t be mine.

You can’t impose love. It arises unwittingly. You can’t withhold love. It will blight eventually.

It was an “I love you” without question mark.

you could only be happy when the person you choose to be with also chooses to be with you (alanda kariza)

Advertisements

terucap selamat untuk malam

selamat malam untuk kamu yang semu

selamat malam untuk insan kesepian yang menatap langit langit saat tidur, untuk melupakan fakta bahwa tak ada siapapun di sampingnya bilamana terpekur

selamat malam untuk telinga yang pengang, setelah terus menerus mendengar hiruk pikuk keriuhan dunia yang tak lagi lengang

selamat malam untuk bibir yang berulang kali mencoba untuk bilang cinta, tapi tetap terkatup karena lebih baik jadi buta

selamat malam untuk mata yang lelah meneteskan air untuk satu orang yang tak berharga, hanya untuk tahu bahwa dirinya pun tak terlihat juga

selamat malam untuk hati yang meraung, berharap manusia di sekitarnya sadar bahwa ada gaung

selamat malam untuk otak yang tak lagi terpakai, akibat entah sejak kapan sejak terakhir dirinya dibelai

selamat malam untuk dia yang tak menoleh ke belakang, padahal jelas jelas ada yang sayang

selamat malam untuk saya.

 

kata diandra dalam hati

Belasan tahun Diandra mengenal pria yang berdiri di hadapannya saat ini dan belum pernah sekalipun ia melihat pancaran mata itu. Apa artinya?

Takut? Diandra meragukannya, mengingat dia selalu tanpa ragu saat mengarungi jeram di berbagai sungai berbahaya.

Tegang? Diandra bersamanya beberapa menit sebelum ujian sarjananya dan tidak ada raut tegang sedikit pun saat itu.

Marah? Bukan, ini bukan wajahnya yang Diandra lihat setelah ia ditipu habis habisan oleh rekan bisnisnya beberapa tahun lalu.

Diandra hafal berbagai ekspresi wajah pria ini. Bukan hanya ekspresi wajah, Diandra hafal segala hal tentang dia. Hmm, sebentar. Diandra pernah melihat situasi ini.

Saat Diandra datang ke prom dengan idolanya sejak masuk SMA, saat Diandra asik skype dengan idola SMA-nya itu karena si idola kuliah di luar negeri, saat Diandra berkenalan dengan dokter sukses setelah lama patah hati akibat idola SMA-nya, saat Diandra dan si dokter sukses balikan lagi.

Saat Diandra akhirnya bertemu dengan pasangan hatinya dan tak berhenti bercerita tentangnya.

Ekspresi wajah itulah yang juga muncul saat ini, ketika Diandra memperlihatkan cincin pertunangan yang ia dapat beberapa jam sebelumnya.

Dicintai tidak pernah sesakit ini, kata Diandra dalam hati.

 

soon

“You’re crazy for asking me to marry you”

“I bet you’re crazy enough to say yes”

Dicuplik dari….. tulisan sendiri yang belum saatnya dipublish

 

Busy Day

I called her and she didn’t answer me. I decided to go upstairs and checked on her at her room. The light was on, her door was slightly open. I knew I should’ve knock but I insisted to come into her room without her permission. There she were. She fell asleep on her desk. She put her head on the desk, her right palm on the mouse and her left one held her cellphone.  Her laptop’s on sleep mode, just like its owner. Busy day, eh?

Hmmm. Books were on her side. It seemed she’s in the middle of writing her paper. I remembered when she told me once about her research. Something about toxicity, something about batik, and something about waste water. I asked about it several times but she didn’t want to explain much. She worried that I will interfere and criticize her again and again. As a matter of fact, that’s the way I show my attention to her.

I didn’t know that much about her research but I knew that she worked very hard on it. She might no be the best in her class but she’s full of determination. She wanted to be recognize and I knew that this research will help her. No matter how hard it is, she won’t give up.

Her phone suddenly rang and she woke up. She realized that I was there all the time. I heard her murmur, “Dad, what are you doing here?”

🙂

____________________________________________

(membuat cerita tentang diri sendiri dari sudut pandang seorang ayah yang sebenarnya gak mungkin ayah saya seperti ini :p)

Layar

Ada satu tempat favorit saya dan dia. Namanya Layar. Bukan ‘layar’ di perahu namun ‘layar’ untuk menonton film.

Layar adalah rumah kecil yang disulap pemiliknya menjadi surga bagi pecinta film. Di situ kami bisa membeli, meminjam, menonton, maupun hanya membicarakan segala jenis film dari lokal hingga internasional, baru maupun jadul. Saya dan dia merupakan segelintir orang yang menjadi pelanggan setia Layar.

Di sinilah saya dan dia berdiri sekarang. Saya masuk terlebih dahulu sedangkan ia memarkir motornya di halaman yang tidak besar pula. Saya menyapa penjaga Layar yang seperti biasa menyambut kami dengan senyum tipis di balik buku yang dibaca. Setiap saya kesini, buku yang dibaca selalu berganti namun tetap dengan judul yang menimbulkan tanda tanya seperti “Rahasia Kematian” atau “Di Balik Tanda Tanya”

Dia masuk ke dalam saat saya sedang melihat lihat majalah film di dekat kasir. Ah, paling dia akan ke rak “sejarah” dulu. Benar kan. Kecintaannya akan film sejarah membuat saya berpikir kadang kadang ia lebih tertarik akan masa lalu dan tidak pernah melangkah ke depan. Namun kecintaannya itu pula yang membuat saya tak pernah bosan memandang matanya saat ia menceritakan ulang apa yang telah ia tonton dengan penuh semangat dan binar matanya tidak pernah bohong.

Saya memilih untuk melihat film di rak ‘anak’ lalu bergeser ke ‘animasi’ dan ternyata ia sudah ada di samping saya.

Ada film yang cocok untuk kamu, katanya.

Tentang sejarah negara mana lagi ini, tanya saya.

Bukan, ini tentang masa depan.

Saya menerima kotak DVD itu. Tidak ada kertas yang menjadi cover-nya. Aneh bukan? Itu pula yang saya pikirkan. Tanpa bertanya, saya membuka kotak DVD itu. Tidak ada CD, tidak ada cover.

Ada sebuah cincin. Disangkutkan di lingkaran yang harusnya menjadi tempat bertenggernya CD.

Skenarionya belum saya tulis, katanya. Tetapi saya yakin itu akan menjadi film best seller di kehidupan kita. Mau menontonnya bersama saya?

Saya menatap matanya, dan binar itu ada.

Saya mengangguk.

 

Intimacy

Intimacy, is the scent of your body unfurled into the air. It is the weave of your skin that I could feel when mine accidentally fondled yours. Intimacy, is laughing out loud on your dry, dull joke-telling attempts. It is having my hand held by you as we crossed the streets. Intimacy, is creating long discussions with you about beliefs, values, politics, food, nations, and everything you know about. It is caressing your cheeks while you are asleep.

Intimacy, is what I would like to always have with you whenever I wake up and whenever I am about to go to sleep. It is trying out a new fancy restaurant in town. Intimacy, is knowing that you press toothpaste tubes on the center of it; and I do so on the edge of it. It is getting to know the little details of you: your habits, your ramblings, your thoughts. Intimacy is, making you my muse. It is, making myself yours.

taken from #BeatsApart – “Intimacy” http://beatsapart.tumblr.com/